Selasa, 21 Desember 2010

SUMBANGSIH ISLAM UNTUK DUNIA MARITIM

Peradaban Islam di era kegemilangan selama beberapa abad tampil sebagai //super power// dunia. Pada era kekhalifahan, dunia Islam menguasai berbagai sektor seperti, ilmu pengetahuan, politik, militer serta ekonomi dan perdagangan. Tak heran jika dunia Islam mampu menguasai wilayah yang terbentang begitu luas, meliputi benua Asia, Afrika dan Eropa.

Kekhalifahan Islam dipandang telah memberi kontribusi yang signifikan dalam terjadinya proses globalisasi di era itu. Dengan ilmu pengetahuan serta kekuatan ekonomi yang dikuasainya, dunia Islam mampu membebaskan begitu banyak wilayah dari keterisolasian. Para penjelajah, pelaut, sarjana, saudagar serta pelancong Muslim telah berjasa menghubungkan dan membuka wilayah yang terisolasi itu dengan dunia Islam.

Para ahli sejarah menamakan periode ini sebagai “Pax Islamica”. Keberhasilan dunia Islam dalam membangun perekonomian global di zaman kekhalifahan tak lepas dari teknologi perkapalan dan navigasi yang dikuasai umat Islam. Dengan teknologi navigasi dan perkapalan yang canggih pada zamannya, kekhalifahan Khulafa Ar-Rasyidin, Umayyah, Abbasiyah, Fatimiyah dan Usmani Turki mampu menjadi kekuatan ekonomi selama berabad-abad.

Berbekal teknologi perkapalan dan navigasi pula, para penjelajah Muslim dari Andalusia dan Afrika Utara sukses mengarungi Lautan Atlantik antara abad ke-9 hingga 14 M. Mereka telah mencapai benua Amerika, sebelum Christopher Columbus menemukannya pada abad ke-15 M. Para sarjana Muslim mulai mengembangkan teknologi navigasi yang berguna untuk mengarungi lautan, mencapai tujuan serta melewati dan memahami rute yang dituju pada abad ke-8 M.

Secara bahasa, kata navigasi berasal dari bahasa Sansekerta “Navghathi”. Navigasi didefinisikan sebagai penentuan posisi dan arah di atas permukaan bumi. Konon, peradaban India memulai sejarah maritimnya sejak 5.000 tahun lalu. Galangan kapal terapung pertama dibangun peradaban lembah Indus sekitar 2300 SM. Peradaban manusia lainnya, seperti Cina, Yunani dan Persia Kuno juga telah mengembangkan navigasi dengan caranya masing-masing.

Teknologi navigasi berkembang pesat di era kekhalifahan Islam. Peradaban Islam lewat gerakan penerjemahan teks dari berbagai peradaban mulai memahami pentingnya menguasai teknologi navigasi. Berbekal pengetahuan itu, para geogarfer dan para navigator Muslim mengembangkan sendiri teknologi navigasinya. Pengembangan navigasi dilakukan para penjelajah Muslim perintis. Merekalah yang berjasa meletakkan dasar penetapan lokasi sebuah tempat.

Salah satu teknik yang paling penting untuk menentukan sebuah lokasi adalah garis lintang dan garis bujur. Hal semacam ini sudah dikuasai para geogrefer dan penjelajah Muslim. Teknik navigasi lainnya yang lebih canggih yang dikuasai umat Islam di era kekhalifahan adalah dengan menggunakan posisi triangulasi berdasarkan pada matahari, bintang dan horison.

Berbekal pemahaman dasar tentang navigasi itu, peradaban Islam mulai menemukan sederet teknologi navigasi modern. Salah satu teknologi navigasi yang paling penting yang dihasilkan peradaban Islam adalah kompas magnetik. Bapak Sejarah Sains Barat, George Sarton dalam // Introduction to the History of Science// mengungkapkan, adalah benar bahwa peradaban Cina telah lama mengenal potensi navigator jarum magnet.

Namun, papar Sarton, potensi itu tak pernah dimanfaatkan peradaban Cina untuk membuat sebuah kompas. Menurut dia, peradaban Islam-lah yang pertama kali menggunakan magnet sebagai alat penunjuk arah. Para sarjana Islam mengembangkan kompas dengan 32 titik. Sejarah mencatat, pada abad ke-11 para pelaut Muslim menggunakan kompas Marinir untuk pertama kalinya atau mungkin jauh sebelum itu sudah memakainya.

Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve menyebutkan, penggunaan magnet sebagai penunjuk arah dalam risalah untuk pertama kalinya muncul dalam kumpulan anekdot Persia bertajuk //“Jawami Al-Hikayah wa Lawami ar-Riwayah”// ( Kumpulan Hikayat dalam Riwayat-riwayat Cemerlang). Kompilasi anekdot itu ditulis oleh Muhammad Al-Rawi pada tahun 1230 M.

Selain itu, teknologi navigasi lainnya yang dikembangkan peradaban Islam untuk mengarungi lautan dan menjelajahi dunia adalah Baculus. Kamus on-line Tiscali, mendefinisikan Baculus sebagai kemudi, tangkai serta simbol kekuasaan. Dalam dunia navigasi, Baculus merupakan teknologi yang digunakan untuk astronomi nautica. Teknologi ini asli dikembangkan peradaban Spanyol Muslim yang berpusat di Cordoba.

Pada era selanjutnya, Baculus digunakan para navigator Portugis untuk melanglang dunia. Berbekal Baculus yang diciptakan peradaban Islam, bangsa Portugis menguasai sejumlah wilayah, salah satunya kawasan timur Nusantara sekitar abad ke-16 M. Teknologi navigasi lainnya yang ditemukan para navigator Muslim adalah Caravel. Pada abad ke-13 M, para penjelajah dari Spanyol Muslim telah menggunakan teknologi navigasi yang satu ini untuk mengarungi samudera.

Dua abad kemudian, teknologi Caravel digunakan oleh bangsa Spanyol dan Portugis untuk melakukan perjalanan mengelilingi dunia. Penemuan penting lainnya dalam bidang navigasi Muslim adalah Kamal. Teknologi ini digunakan navigasi angkasa serta untuk mengukur ketinggian dan garis lintang bintang.

Tekonologi navigasi lainnya yang dikembangkan para pelaut Muslim adalah //Three-masted merchant vessel//. Menurut Jhon Hobson, para peluat Islam memperkenalkan teknologi itu di sekitar laut Mediterania. Selain itu, peradaban Islam juga menyumbangkan sejumlah peta yang dijadikan panduan para navigator. Salah satu peta yang digunakan pelaut Spanyol, Christopher Columbus untuk mengarungi Samudera Atlantik adalah peta Al-Idrisi.

Penjelajah Muslim lainnya seperti Ibnu Batutta dari Maroko serta Cheng Ho dari Cina juga telah menyumbangkan jalur perjalanan yang dijadikan pegangan para navigator dunia selama berabad-abad. Teknologi navigasi merupakan salah satu kunci keberhasilan peradaban Islam menggenggam dunia. *wartawan Republika

Ahmad bin Majid
Sang Navigator Legendaris

//Shihan Al-Dein// alias Singa Lautan. Julukan itu ditabalkan kepada Ahmad bin Majid karena kehebatannya dalam mengarungi samudera. Navigator dan kartografer (pembuat peta) Muslim itu terlahir pada tahun 1421 di Julphar – sekarang dikenal sebagai Al Khaimah – sebuah kota di Uni Emirat Arab. Ahmad tumbuh dikeluarga pelaut. Tak heran jika pada usia 17 tahun, dia sudah bisa mengemudikan kapal.

Keandalannya sebagai seorang navigator membuatnya begitu dikenal sebagai seorang pelaut yang jempolan. Sosok Ahmad begitu popular di dunia Barat. Itu lantaran sang Singa Laut telah turut membantu Vasco da Gama untuk menemukan jalan dari Afrika menuju India. Selain dikenal sebagai navigator yang tangguh, Ahmad juga boleh dibilang seorang sastrawan. Tak kurang dari 40 puisi dan syair telah ditulisnya.

Salah satu karya dan sumbangannya yang paling penting bagi bidang navigasi adalah //Kitab al-Fawa’id fi Usul ‘Ilm al-Bahr wa ’l-Qawa’id// (Buku Informasi yang Berguna tentang Dasar-dasar dan Aturan Navigasi). Kitab itu ditulisnya pada tahun 1490 M – satu dasawarsa sebelum Ahmad tutup usia. Kitab yang ditulisnya itu berupa sebuah ensikolpedia navigasi yang memaparkan sejarah dan prinsip dasar navigasi, letak bulan serta garis-garis mata kompas.

Buku itu juga mengupas tentang perbedaan pantai serta lautan terbuka. Selain itu, buku itu juga berisi lokasi pelabuhan mulai dari Afrika Timur hingga ke Indonesia. Dalam buku ini juga dibahas tentang posisi bintang dan berbagai macam angin yang bisa ditemui seorang navigatir profesional dalam sebuah ekspedisi pelayaran.

Ahmad juga menulis beberapa buku lainnya tentang ilmu maritim dan pergerakan kapal. Buku yang ditulisnya itu mencoba untuk membantu orang di Teluk Persia untuk mencapai pantai India, Afrika Timur dan beberapa tujuan lainnya. Ia juga menulis buku tentang oceanografi berjudul //Fawa'dh fi-Usl Ilm al-Bahrwa-al-Qawaidah// -- inilah salah satu bukunya yang dinilai paling bagus. N hri

Geliat Industri Perkapalan

Seiring berkembangnya teknologi navigasi, teknologi perkapalan pun berkembang pesat di dunia Islam. Sebagai kekuatan industri dunia terbesar di abad pertengahan, dunia Islam pun memiliki begitu banyak pelabuhan yang ramai dan padat. Biasanya, di sepanjang daerah pantai banyak berdiri fasiltas pembuatan dan perakitan kapal.

Setiap negeri Muslim menciptakan kapal dengan model dan jenis yang berbeda-beda. Selain membuat kapal untuk tujuan berniaga, pada era itu pembuatan kapal untuk perang atau memperkuat angkatan laut juga gencar dilakukan. Kapal perang dibangun untuk memperkokoh pertahanan wilayah kekuasaan kekhalifahan Islam di lautan. Sehingga, ketika itu kekhalifahan Islam tak hanya tangguh di darat, namun juga kuat di lautan. Begitu sulit untuk dikalahkan.

Kapal perang didesain lebih ramping dan dikendalikan dengan alayar atau dayung. Sedangkan, kapal niaga dibangun dengan cukup lebar. Rancangan seperti itu sengaja dibuat agar kapal dapat membawa barang dalam jumlah yang banyak. Pada masa itu, kapal perang yang paling bongsor sanggup menampung 1.500 prajurit marinir. Sedangkan kapal dagang yang besar mampu menampung 1.000 ton barang.

Ensiklopedia Islam terbitan Ichtiar Baru Van Hoeve mengungkapkan, galangan kapal pertama yang dibangun di dunia Islam berada di Pulau Rawdah, Mesir. Galangan itu dibangun pada tahun 54 H/673 M. Setelah itu, galangan kapal berdiri di hampir setiap wilayah kekuasaan Islam. Di era kekuasaan Abbasiyah, Khalifah Al-Mutawakkil sangat memperhatikan pelabuhan kapal di Mesir.

Pada era kekuasaan Kekhalifahan Usmani Turki pun lautan mendapat perhatian khusus. Sultan Muhammad II pun menetapkan lautan sebagai prioritas utama. Pada masa itu,pemerintahan Ottoman juga berhasil membangun kapal-kapalnya yang besar dan canggih di Gallipoli. Di bawah komando Gedik Ahmed Pasha (1480), Daulah Usmani membangun basis kekuatan lautnya di Istanbul. Tak heran, jika marinir Turki mendominasi Lautan Hitam dan menguasai Otranto.

Pada era kekuasaan Sultan Salim I (1512-1520), di pusat persenjataan Maritim dbangun kapal laut yang besar. Tak heran, jika Salim I kerap berseloroh, “Jika scorpions (Kriten) menempati laut dengan kapalnya, jika bendera Paus dan raja-raja Prancis serta Spanyol berkibar di pantai Trace, itu semata-mata karena toleransi kami.” Tak kurang 150 unit kapal dibangun untuk memperkuat pertahanan Usmani Turki di lautan.
Dilengkapi dengan kapal laut terbesar di dunia, pada abad ke-16 M, Turki Usmani telah menguasai Mediterania, Laut Hitam dan Samudera Hindia. Tak heran, bila kemudian Daulah Usmani kerap disebut sebagai Kerajaan yang bermarkas di atas kapal laut. Sayangnya, dominasi Muslim di lautan kini telah memudar.

Senin, 20 Desember 2010

SISTEM BILGA KAPAL

a. Cara Kerja
Cara kerja dari sistem bilga ini adalah menampung berbagai zat cair tersebut kedalam sebuah tempat yang dinamakan dengan bilge well, kemudian zat cair tersebut dihisap dengan menggunakan pompa bilga dengan ukuran tertentu untuk dikeluarkan dari kapal melalui Overboard yang tingginya 0,76 meter diatas garis air. Sedangkan zat cair yang mengandung minyak, yaitu yang tercecer didalam Engine room akan ditampung didalam Bilge Well yang terletak dibawah Main Engine, kemudian akan disalurkan menuju Incinerator dan Oily Water Separator untuk dipisahkan antara air, kotoran dan minyaknya. Untuk minyaknya dapat digunakan lagi sedangkan untuk air dan kotoran yang tercampur akan dikeluarkan melalui Overboard.
b. Fungsi Sistem Bilga
Bilge sistem merupakan sistem yang dapat melakukan pemompaan terhadap fluida yang ada pada double bottom sehingga fluida tersebut yang kemungkinan bercampur dengan minyak dapat dilakukan prosesing dan kemudian air yang ada dapat dibuang keluar melalui over board.

c. Bilge well
Bilge Well merupakan suatu tempat dengan ukuran tertentu yang telah ditentukan untuk menampung berbagai kotoran atau dalam bentuk zat cair yang ada di kapal. Jumlah dari bilge well minimum dua buah untuk kiri dan kanan sepasang dan setimbang, tergantung pada jumlahtangki ballast, ditambah dengan beberapa bilge well yang terletak dibawah ruang mesin. Letak Bilge Well dalam tangki ballast diupayakan pada paling pinggir dan paling belakang dalam tangki tersebut. Juga berdekatan dengan Manhole (lobang jalan masuk manusia). Volume dari bilge well tersebut maksimal 0,57 m3, sedangkan tinggi bilge well tersebut minimal 0,5 tinggi double bottom. Pada bagian atas bilge well harus ditutup dengan strainer.

d. Pipa Cabang dan Pipa Utama
Perpipaan bilga terdiri dari pipa bilga utama dan pipa bilga cabang, pipa bilga langsung, dan pipa bilga darurat. System bilga utama dan cabang, system ini adalah untuk memindahkan bilga yang terdapat pada tempat-tempat bilga pada kapal dengan menggunakam pompa bilga di kamar mesin. Sisi hisap bilga di kamar mesin biasanya dipasang di dalam bilge well di bagian depan kamar mesin (port dan starboard), bagian belakang kamar mesin, bagian belakang shaft tunnel. Saluran cabang bilga ini dihubungkan dengan saluran utama bilga yang mana dihubungkan ke sisii hisap pompa bilga. Pipa bilga langsung, Pipa-pipa bilga langsung adalah untuk menghubungkan secara langsung bilge well (port dan starboard) pada bagian depan kamar mesin dengan pompa bilga. Diameter dalamnya sama dengan saluran bilga utama. Pipa bilga darurat, Pipa bilga darurat adalah pipa hisap bilga yang dihubungkan ke pompa yang mempunyai kapasitas terbesar di kamar mesin dan biasanya dihubungkan ke pompa utama pendinginan air laut di mesin kapal. Diameter dalam pipa bilga darurat biasanya sama dengan diameter hisap pompa.

e. Jumlah dan Jenis Katup serta Fitting
Untuk katup dan fitting pada pipa hisap sistem bilga, pada gambar diperoleh untuk fitting jenis Elbow 90o sebanyak 7 buah, katup jenis Butterfly 1 buah, strainer 2 buah, NRV 1 buah dan 3 way valve sebanyak 2 buah. Sedangkan untuk pipa discharge sistem bilga, pada gambar terhitung fitting jenis Elbow 90o sebanyak 6 buah, butterfly 1 buah, strainer 2 buah, katup jenis SDNRV sebanyak 2 buah, dan 3 way valve sebanyak 1 buah. Dengan demikian total head losses diperoleh sebesar 15.94 m (untuk bilga kamar mesin), dan 24,75 meter untuk bilga ruang muat.

f. Pompa
Dari head losses yang telah dihitung diatas, maka saya dapatkan Daya pompa yang dibutuhkan sebesar 5.38 kW atau sebesar 7.32 HP. Oleh karenanya pompa yang saya pilih untuk memenuhi kebutuhan daya serta head tersebut adalah pompa bilga merek Shinko, type RVX 200S double stage, dengan putaran 1500 RPM, daya motor 15 kW, kapasitas 100 m3/jam, Head 50 m, dan frekuensi 50 Hz. Pompa bilga ini saya letakkan di tanktop. Sedangkan untuk pompa bilga kamar mesin, digunakan pompa dengan merk yang sama dengan pompa untuk bilga di ruang muat.

g. Outboard
Air yang tidak terpakai akan dikeluarkan melalui Outboard. Dimana peletakan Outboard ini haruslah 0,76 m diatas garis air atau WL, pada satu outboard harus diberi satu katup jenis SDNRV.

h. Separator
Untuk Oily Bilge System, minyak yang tercecer yang tercampur dengan air akan dipisahkan dengan menggunakan Oil Water Separator. Pada kapal ini, Oil Water Separator yang dipakai adalah merek Alva Laval type SA 821 dengan kapasitas 1400 lit/hr, tekanan minimum 2 bar dan maksimum 6 bar, Head 30 m, Tegangan 220 Volt, dan frekuensi 50 Hz. Separator ini terletak pada tanktop

i. Sludge Tank
Untuk minyak yang telah dipisahkan dengan kotoran dan air, yang bisa dipakai lagi setelah dipisahkan akan ditampung kedalam sludge tank dengan kapasitas 3 m3, terletak pada tanktop. Dalam perencanaan system bilga yang kelas yang digunakan adalah BKI 1996 Vol.III Section 11. N, yaitu :
1) Jalur Bilga
• Jalur bilga dan sisi hisap bilga harus diatur sehingga bilga dapat dipompa dengan lengkap meskipun di bawah kondisi trim.
• Sisi hisap bilga normalnya diletakkan pada kedua sisi kapal. Untuk kompartemen yang letaknya di depan dan di belakang kapal, satu hisap bilga sudah cukup dan dapat mengeringkan secara lengkap kompartement yang relevan.
• Ruang yang terletak di depan sekat tubrukan dan di belakang sekat stern tube dan tidak dihubungkan ke system bilga umum harus dikeringkan dengan peralatan lain yang sesuai dengan kapasitas yang memadai.
2) Pipa yang melewati tangki
• Pipa bilga tidak boleh melewati tangki minyak pelumas,minyak panas, air minum, atau feedwater.
• Ketika pipa bilga melewati tangki bahan bakar yangterletak di atas double bottom dan berakhir pada ruanganyang mana tidak dapat diakses selama pelayaran,sebuah katup non-return tambahan harus dipasang pada pipa bilga dimana pipa dari sisi hisap masuk ke tangki bahan bakar.
3) Isapan bilga
• Tempat isapan bilga diatur sehingga tidak mempengaruhi pembersihan dari bilga dan harus dipasang dengan mudah untuk mudah dilepas. Menggunakan saringan berbahan anti karat.
• Isapan bilga darurat dipasang sedemikian sehingga dapat dijangkau dengan aliran bebas dan jarak yang cukup dari tank top atau dasar dari kapal.
4) Katup-katup bilga
• Katup-katup pada hubungan pipa antara bilga dan air laut dan system air ballast, seperti antara hubungan bilga pada kompartemen yang berbeda, harus diatur sehingga meskipun dalam kejadian kegagalan operasi atau posisi katup intermediet, masuknya air laut melalui system bilga
dapat dicegah.
• Pipa discharge bilga harus dipasangi dengan katup shut off pada sisi kapal.
• Katup bilga harus diatur sehingga dapat selalu diakses baik itu saat pembebanan (ballast) maupun kondisi pembebanan dari mesin
5) Pelindung aliran balik
• Katup screw down non return disarankan sebagai perlindungan aliran balik.
• Sebuah kombinasi dari sebuah katup non-return tanpa mekanisme shut-off dan katup shut-off dapat digunakan dengan persetujuan kelas.
6) Sambungan pipa
• Untuk mencegah masuknya ballas dan air laut ke dalam kapal melalui system bilga, dua peralatan perlindungan aliran balik harus dipasang pada sambungan bilga, salah satunya harus merupakan sebuah katup screw down non return.
• Untuk sambungan bilga diluar ruang permesinan, sebuah kombinasi dari katup non-return tanpa shut-off dan katup shut-off yang diremote kontrol dapat digunakan.
• Hisapan bilga secara langsung dan injeksi darurat hanya memerlukan satu peralatan dari perlindungan aliran balik seperti dijelaskan sebelumnya.
• Bilamana sambungan air laut langsung diatur untuk dipasang pada pompa bilga untuk melindunginya dari pengisapan hampa, sisi hisap bilga juga harus dipasang dengan dua katup screw-down non-return.
• Jalur tekan dari oil water separator harus dipasangi dengan sebuah katup non-return pada sisi kapal.
7) Pompa Bilga
Apabila digunakan pompa sentrifugal untuk pompa bilga, pompa itu harus merupakan self-priming atau dihubungkan ke sebuah alat pemisah udara.
8) Penggunaan pompa lain untuk pompa bilga
• Pompa-pompa ballast, pompa pendingin air laut yang stand-by, pompa pelayanan umum dapat juga digunakansebagai pompa bilga independent yang dilengkapi dengan self-priming dan kapasitas yang disyaratkan.
• Dalam kejadian kegagalan salah satu dari pompa bilga yang disyaratkan, salah satu pompa harus dapat bertindak sebagai pompa pemadam dan pompa bilga.
• Pompa pelumas dan bahan bakar tidak boleh dihubungkan ke system bilga.
• Ejektor bilga dapat diterima sebagai susunan pompa bilga yang disediakan dengan sebuah suplai air laut independent.

Minggu, 19 Desember 2010

PERBANDINGAN UKURAN UTAMA PADA KAPAL

Perbandingan ukuran utama kapal adalah L/B, L/H, B/T dan H/T. dibawah ini diberikan uraian secara singkat mengenai ukuran utama serta perbandingan ukuran utama dan pengaruhnya terhadap perencanaan kapal.
Panjang kapal (L) terutama mempunyai pengaruh pada kecepatan kapal dan pada kekuatan memanjang kapal. Penambahan panjang L pada umumnya akan mengurangi tahanan yang diderita pada displacement tetap dan akan mengurangi kekuatan memanjang kapal. Disamping itu penambahan panjang L dapat pula mengurangi kemampuan oleh gerak kapal (manuver) mengurangi penggunaan fasilitas dok galangan dan terusan . sedangkan pegnurangan panjang L pada displacement tetap akan menyebabkan ruangan badan kapal yang bertambah besar.
Perbandingan L/B yang besar terutama sesuai untuk kapal-kapal dengan kecepatan yang tinggi dan mempunyai perbandingan ruangan yang baik akan tetapi mengurangi kemampuan olah gerak kapal dan mengurangi pula stabilitas kapal. Perbandingan L/B yang kecil memberikan kemampuan stabilitas yang lebih baik akan tetapi dapat juga menambah tahanan kapal.
Perbandingan L/H terutama mempunyai pengaruh terhadap kekuatan memanjang kapal. Untuk harga L/H yang besar akan mengurangi kekuatan memanjang kapal sebaliknya untuk harga L/H yang kecil akan menambah kekuatan memanjang kapal.
Oleh karena itu Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) 1968 memberi persyaratan sebagai berikut: L/H = 14 untuk daerah pelayaran Samudra L/H = 15 untuk daerah pelayaran Pantai L/H = 17 untuk daerah pelayaran Lokal L/H = 18 untuk daerah pelayaran Terbatas.
Dari ketentuan diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa daerah yang mempunyai gelombang besar atau pengaruh-pengaruh luar lainnya yang lebih besar sebuah kapal mempunyai persyaratan harga perbandingan L/H yang lebih kecil.
Penyimpangan-penyimpangan dari ketentuan diatas masih dimungkinkan atas dasar perhitungan kekuatan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Lebar kapal B: terutama mempunyai pengaruh pada tinggi metancetre.
Penambahan lebar B dengan displacement. Panjang kapal dan sarat kapal tetap akan menyebabkan kenaikan tinggi matecentre MG. penambahan lebar pada umumnya digunakan untuk mendapatkan penambahan ruangan badan kapal. Akan tetapi hal ini juga mempunyai kerugian karena dapat mengurangi penggunaan fasilitas terusan, dok dan galangan.
Perbandingan B/T terutama mempunyai pengaruh pada stabilitas kapal. Harga perbandingan B/T yang rendah terutama akan mengurangi stabilitas kapal. Sebaliknya harga perbandingan B/T yang tinggi akan membuat stabilitas kapal menjadi lebih baik. Untuk kapal-kapal sungai harga perbandingan B/T dapat diambil sangat besar. Karena harga T dibatasi oleh dalam sungai yang pada umumnya sudah tertentu.
Tinggi dek H terutama mempunyai pengaruh pada tinggi titik berat kapal (centre of gravity) KG dan juga pada kekuatan kapal kapal serta ruangan dalam kapal. Penambahan tinggi dek H pada umumnya akan menyebabkan kenaikan KG sehingga tinggi metacentre MG berkurang.
Selain itu perubahan tinggi dan H dapat menyebabkan bertambahnya kekuatan menunjang kapal, kalau ukuran-ukuran penguat memanjang tetap. Pada umumnya kapal barang mempunyai harga KG sebesar 0,60 H.
Syarat air T terutama mempunyai pengaruh pada tinggi centre of buoyancy (KB). Penambahan syarat air T pada displacement. Panjang kapal dan lebar kapal tetap pada umumnya menyebabkan kenaikan harga KB. Penambahan syarat Y selalu dihindarkan karena dapat disinggahi. Daerah pelayaran menjadi terbatas serta penggunaan fasilitas perbaikan, dok, galangan dan terusan menjadi berkurang pula.
Perbandingan H/T, terutama berhubungan dengan reserve displacement atau daya apung cadangan. Harga H/T yang besar dapat dijumpai pada kapal-kapal penumpang. Harga H-T disebut lambung timbul (free board), dimana secara sederhana dapat disebutkan bahwa lambung timbul adalah tinggi tepi dek dari permukaan air.

GEOMETRI KAPAL

Pengetahuan tentang geometri kapal merupakan salah satu dasar pengenalan terhadap teori dan struktur kapal, dimana dengan bentuk bidang lambung kapal yang spesifik & unik serta melibatkan banyaknya kurva akan menuntut cara penggambaran teknis yang spesifik pula.
Beberapa istilah mendasar yang perlu diketahui a.l. adalah:
  1. Lpp :Length  perpendicular, adalah panjang kapal yang diukur antara dua garis tegaknya, yaitu garis tegak haluan (depan) yang ditentukan dari perpotongan antara garis air penuh dengan linggi depan (stem) dan garis tegak belakang yang diambil dari garis vertical poros kemudi kapal.
  2. LoA :Length Overall, adalah panjang keseluruhan kapal yang diukur dari ujung paling luar depan dan belakang kapal.
  3. LWL :Length Water Line, adalah panjang kapal diukur pada sarat penuh kapal (full draft)
  4. Breadth (B) : adalah lebar kapal yang diukur pada bagian tengah kapal (midship section)
  5. Draft (T) : atau sarat kapal, adalah tinggi bagian bawah lambung kapal maksimum yang diukur pada bagian tengah kapal (midship section)
  6. Depth (D) : atau tinggi kapal, adalah tinggi kapal yang diukur pada bagian tengah kapal (midship section
  7. Midship section: adalah bidang pada bagian tengah kapal yang diukur tepat membagi dua Lpp kapal.
  8. Center line : adalah garis sumbu poros membujur kapal yang terletak tepat ditengah lambung kapal, membagi bidang kapal sama besar antara kiri & kanan.
  9. Starboard side : sisi kanan kapal
  10. Port side : sisi kiri kapal
  11. Transverse Plane: adalah bidang yang didapatkan dengan memotong lambung kapal secara vertical tegak lurus segaris dengan center line.
  12. Transverse Plane: adalah bidang yang didapatkan dengan memotong lambung kapal secara vertical tegak lurus segaris dengan midship line.
  13. Waterline Plane : adalah bidang yang didapatkan dengan memotong lambung kapal secara horizontal segaris dengan waterline.

NAVAL ARCHITECT - WHERE THE ART & SCIENCE MEET..

Sejarah perkapalan yang pertama kali tercatat mungkin adalah sejarah Nabi Nuh pada saat banjir besar melanda bumi, dimana sejarah tersebut tercatat pada kitab-kitab suci beberapa agama di dunia ini.
Tetapi dari sejarah ilmu perkapalan sendiri, kapal pada masa dahulu diperkirakan dibuat secara try & error oleh suku-suku yang tinggal disekitar pantai dan perairan, dimana semua aspek mulai dari material lambung, system penggerak dari dayung, layar sampai mesin dsb, serta system kemudi, stabilitas dll dimulai dengan percobaan-percobaan yang dilakukan oleh pembuat kapal (craftman) pada saat.
Pada abad ke-17 dimana Isaac Newton dan banyak ahli metamatika mulai meletakkan dasar-dasar pengetahuan yang kemudian dijadikan dasar pengembangan ilmu terapan termasuk juga ilmu perkapalan. Pierre Bouguer diakui sebagai bapak perkapalan modern, dimana pada tahun 1746 dengan dia terbitkan buku “Traite’ du Navire”. Dalam buku ini Bouguer meletakkan pondasi dari banyak aspek perancangan kapal (naval architect) yang kemudian dikembangkan pada abad ke-18 oleh Bernoulli, Euler dan Santacilla. Lagrange dan ilmuwan lain juga membuat banyak kontribusi tetapi penyumbang paling berperan adalah seorang Swedia, Frederick Chapman dimana dia menjadi pioneer dalam bidang tahanan kapal (ship resistance), dimana hasil kerjanya menjadi dasar bagi karya beasr William Froude seratus tahun kemudian. Pendekatan ilmiah terhadap ilmu perkapalan lebih maju di Eropa daratan daripada di Inggris sampai dengan sekitar tahun 1850.
Pada masa pertengahan hingga akhir abad ke-19, perkembangan ilmu pengetahuan perkapalan terjadi sangat cepat di Inggris dengan munculnya Scott Russel, Rankine dan Froude.
Adalah hal yang salah dengan menganggap bahwa dunia perkapalan telah sepenuhnya mengesampingkan sentuhan seni dan teknik pembuatan kapal tradisional, dan mengganti sepenuhnya dengan ilmu dan teori metamatis serta pendekatan science.
Pendekatan secara science adalah untuk beberapa hal, antara lain adalah telah terbukti bahwa hanya dengan pendekatan seni, kapal tidak memiliki ketahanan terhadap kecelakaan di laut serta menjamin proses perdagangan bahwa pemilik kapal akan mendapat nilai tambah yang terbaik. Science telah menunjukkan kontribusinya terhadap pengurangan yang signifikan terhadap hal-hal yang tidak diinginkan dari design kapal, disamping juga science tetap membutuhkan tambahan pengalaman yang terus menerus.
Pertanyaannya adalah “Art or Science?”

dan jawaban yang tepat adalah  "Naval Architect is the Art and Science".

KELAIKLAUTAN KAPAL

Kelaiklautan (seaworthiness) sebuah kapal secara teknis (diluar status hukum dan pengawakannya), selama ini dinilai dari integritas struktur dan kekuatan lambung serta seberapa baiknya fungsi kerja sistem dalam kapal tersebut, seperti sistem propulsi & kemudi, power generation, navigasi & komunikasi, pemadam kebakaran, dll.

Adapun acuan untuk menilai hal-hal tersebut diatas, adalah sejauh mana kapal dapat memenuhi persyaratan teknis klasifikasi kapal (classification rules), serta persyaratan-persyaratan dari peraturan IMO (International Maritime Organization – yaitu salah satu badan dari Perserikatan Bangsa-Bangsa yang fokus dalam bidang keselamatan jiwa dan pencegahan pencemaran di laut).
Persyaratan klasifikasi lebih fokus kepada persyaratan dan kalkulasi teknis terhadap suatu konstruksi lambung kapal, stabilitas, permesinan, kelistrikan dan sistem penunjang operasi kapal yang lain, seperti sistem boiler, sistem kemudi, dll.


Peraturan IMO sendiri lebih bertitik berat kepada keselamatan jiwa di laut dengan adanya aturan tentang Safety of Life At Sea – SOLAS dan pencegahan pencemaran di laut yang mengacu pada Marine Pollution Prevention – MARPOL serta beberapa peraturan international lain yang diadopsi, seperti peraturan garis muat (International Load Line Convention, 1966), pencegahan tabrakan di laut (Convention on the International Regulation for Preventing Collisions at Sea - COLREG), dan peraturan yang secara spesifik berlaku untuk type kapal tertentu seperti IGC Code (International Gas Carrier Code) untuk kapal-kapal pengangkut gas dalam bentuk cair (liquefied gas), IBC Code International Bulk Carrier Code) untuk kapal kapal curah.


Serta ada peraturan-peraturan tambahan dari negara tempat kapal tersebut teregister (flag administration).


Semua peraturan dan persyaratan kapal diluar persyaratan klasifikasi lebih dikenal dengan peraturan statutory.



  • Kapal (UU RI No 21 th 1992) adalah kendaraan air dengan bentuk dan jenis apapun, yang digeraakan dengan tenaga mekanik, tenaga angin atau ditunda, termasuk kendaraan yang berdaya dukung dinamis, kendaraan dibawah permukaan air, serta alat apung dan bangunan terapung yang tidak berpindah-pindah.


  • Kelaiklautan kapal (UU RI No 21 th 1992) adalah keadaan kapal yang memenuhi persyaratan keselamatan kapal, pencegahan pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan dan kesejahteraan awak kapal, serta penumpang dan status hukum kapal untuk berlayar di perairan tertentu.


  • Administration (SOLAS 2004) adalah pemerintah suatu negara dimana sebuah kapal didaftarkan pada negara tersebut (memakai bendera negara tersebut), sering pula disebut sebagai flag administration.


  • Penumpang (SOLAS 2004) adalah setiap orang di kapal selain daripada: (i) Kapten /nahkoda kapal dan anak buah kapal (ABK) atau orang lain yang bekerja dikapal dalam kapasitas apapun untuk kepentingan bisnis dari kapal tersebut dan (ii) Anak-anak dibawah usia satu tahun.


  • Kapal penumpang (SOLAS 2004) adalah kapal yang mengangkut lebih dari dua belas orang penumpang.


  • Kapal kargo/barang (SOLAS 2004) adalah semua jenis kapal selain kapal penumpang.


  • Kapal tanker (SOLAS 2004) adalah kapal barang yang mempunyai konstruksi untuk atau disesuaikan untuk mengangkut barang cair dalam bentuk curah dalam kondisi yang tidak mudah ataupun mudah terbakar.


  • Kapal ikan (SOLAS 2004) adalah kapal yang dipakai untuk menangkap ikan, ikan paus, anjing laut, singa laut atau sumberdaya kehidupan lain di laut.


  • Kapal nuklir (SOLAS 2004) adalah kapal yang mempunyai pembangkit tenaga nuklir.


  • Kapal baru/ new ship (SOLAS 2004) adalah kapal yang peletakan lunasnya (keel laying) atau tahap konstruksi yang sama dengan peletakan lunas (lihat no. 13) dilakukan pada tanggal atau setelah 25 May
    1980.


  • Kapal lama/ existing ships (SOLAS 2004) adalah kapal selain kapal baru.


  • Satu mil (SOLAS 2004) adalah jarak sepanjang 1.852 meter atau 6080 kaki.


  • Tanggal ulang tahun/ anniversary date (SOLAS 2004) adalah hari dan bulan pada setiap tahun yang berhubungan dengan tanggal akhir masa berlaku suatu sertifikat.


  • Tahap konstruksi yang sama dengan peletakan lunas (SOLAS) adalah: (i) Tahap konstruksi kapal yang bisa diidentifikasikan secara specific, dan (ii) Tahap assembling kapal yang telah mencapai 50 ton atau 1% dari perkiraan massa seluruh material struktur, dipakai yang mana yang lebih sedikit.




  • ISTILAH DALAM MARITIM



    MO : International Maritime Organization

    ILLC : International Load Line Convention

    IACS : International Associations of Classification Society

    ILO : International Labour Organization

    IGC Code : International Gas Carrier Code

    IBC Code : International Bulk Carrier Code

    IOPP : International Oil Pollution Prevention

    IAPP : International Air Pollution Prevention

    ISPP : International Sewage Pollution Prevention

    ISPS Code : International Code for the Security of Port Facilities and Ship

    ISM Code : International Safety Management Code

    ITC : International Convention on the Tonnage Measurement of Ships

    SOLAS : International Convention on the Safety Of Life At Sea

    SAR : Search and Rescue

    SART : Search & Rescue Radio Transponder

    SOPEP : Shipboard Oil Pollution Emergency Prevention

    SMPEP : Shipboard Marine Pollution Emergency Prevention

    MARPOL : Marine Pollution Prevention

    GMDSS : Global Maritime Distress and Safety System

    DSC : Digital Selective Calling

    EPIRB : Emergency Position Indicating Radar Beacon

    PSC : Port State Control

    FSC : Flag State Control

    COLREG : Convention on the International Regulation for Preventing Collisions at Sea

    VDR : Voyage Data Recorder

    UKURAN KAPAL CARGO

    Kapal Kargo/Kapal Barang/Cargo ship dikategorikan secara dengan berbagai cara,
    dengan kapasitasnya, dengan beratnya, dengan dimensinya juga sering dikategorikan
    berdasarkan kanal/terusan dimana kapal berlayar.

    · Small Handy size, carriers of 20,000 long tons of deadweight (DWT)28,000 DWT

    · Handy size, carriers of 28,00040,000 DWT

    · Handymax, carriers of 40,00050,000 DWT

    · Seawaymax, the largest size which can traverse the St Lawrence Seaway

    · Aframax, oil tankers between 75,000 and 115,000 DWT. This is the largest size defined by the average freight rate assessment (AFRA) scheme.

    · Suezmax, the largest size which can traverse the Suez Canal

    · Panamax, the largest size which can traverse the Panama Canal (generally: vessels with a width smaller than 32.2 m)

    · Malaccamax, the largest size which can traverse the Straits of Malacca

    · Capesize, vessels larger than Panamax and Suezmax, which must traverse the
    Cape of Good Hope and Cape Horn in order to travel between oceans

    · VLCC (Very Large Crude Carrier), supertankers between 150,000 and 320,000 DWT.

    · ULCC (Ultra Large Crude Carrier), enormous supertankers between 320,000 and 550,000 DWT.

    Sabtu, 18 Desember 2010

    REPARASI KONTRUKSI KAPAL

    Reparasi Konstruksi Badan Kapal dapat di bagi menjadi 5 tahapan yaitu

    1. Persiapan Sebelum Pekerjaan Reparasi Konstruksi Badan Kapal
    2. Batas Ketebalan Minimum Pelat Badan Kapal
    3. Reparasi Kampuh Las
    4. Reparasi Sebagian Dari Lajur Pelat
    5. Penggantian Satu Lajur Plat Kulit
    6. Reparasi Balok-Balok Konstruksi

    1. Persiapan Sebelum Pekerjaan Reparasi Konstruksi Badan Kapal
    Pekerjaan pendahuluan yang diperlukan sebelum reparasi konstruksi badan kapal yang tercantum pada daftar reparasi (Repair List) kapal, antara lain:

    * Pembersihan badan kapal dibawah garis air dari tumbuhan dan binatang laut, untuk mengetahui kondisi pelat kulit dibawah garis air dan pengukuran ketebalan.
    * Mengetahui Bukaan Kulit (Shell Expension) kapal dimana tercantum:Hasil pengukuran ketebalan pada pengedokan atau perbaikan yang lalu dan ketebalan awal, Hasil perbaikan/penggantian pelat kulit, Lokasi tiap tangki dasar ganda, tangki ceruk atau deep tank, Batas tangki dasar ganda,Dan Lokasi Deformasi pelat kulit.
    * Mengetahui berapa sisa cairan yang terdapat dalam tangki.
    2. Batas Ketebalan Minimum Pelat Badan Kapal
    Lokasi pengkaratan pada pelat badan kapal umumnya terjadi pada :

    * Pelat lambung : antara garis air muatan kosong dan penuh, haluan terutama daerah jangkar dan dibawah pipa buang.
    * Pelat alas dalam pada pertemuan dengan sekat melintang, got konstruksi pelat tepi yang miring dan sumuran pelat tepi yang horisontal.
    * Sisi bawah pelat sekat melintang pada pertemuan dengan pelat alas dalam.
    * Sekat pemisah ruang sanitair (kamar mandi, dapur)
    * Pelat geladak utama pada daerah got / saluran air
    * Dinding sekat bangunan atas dan rumah geladak dibawah jendela sisi.

    3. Reparasi Kampuh Las
    Kampuh las yang aus melebihi ketentuan yang disyaratkan harus diadakan perbaikan dengan pengelasan kembali sampai ukuran ketinggian kampuh yang disyaratkan. Ntukan kampuh las dilakukan dengan :

    * Alat betel Pneumatis
    * Las potong Acetylene
    * Penggerindaan
    * Carbon Electrode

    Sekarang banyak menggunakan Carbon Electrode ditambah penggerindaan sehingga didapatkan kampuh yang sempurna, dan pengelasan kembali kampuh las dilakukan dengan dua kali jalan pengelasan tergantung dari tebal pelat dan tingkat cacat dari kampuh las.

    4. Reparasi Sebagian Dari Lajur Pelat
    Reparasi sebagian lajur pelat kulit, geladak, pelat alas dalam dan dinding sekat disebabkan oleh: lekuk setempat , retak dan ketebalannya sudah tidak memenuhi syarat.

    a. Reparasi Lajur Pelat Kulit yang Mengalami Lekuk Setempat

    * Apabila besarnya lenturan pada lekuk setempat ini melebihi 1/5 jarak gading dan perbandingan antara dalam lenturan dengan panjang lenturan melebihi 1 : 20 maka lekuk setempat ini harus diganti baru.
    * Apabila lenturan dari gelombang pelat melebihi lima kali tebal pelat dan perbandingan antara dalam lenturan dengan jarak gading lebih dari 1 : 20 maka pelat yang bergelombang ini juga diganti baru.

    Untuk menghilangkan atau mengurangi lenturan, dengan syarat tebal pelat masih memenuhi syarat, baik lekuk setempat atau gelombang dilakukan dengan :

    * Cara Mekanis Dan Pemanasan, Luruskan kembali pelat yang lekuk dan bergelombang dilakukan dengan dipanasi oleh alat panas sampai temperatur 500 derajat sampai 800 derajat celcius dan ditekan dengan hidrolic jack yang diberi alas pelat.
    * Cara Pemanasan Dan Pendinginan, Prinsipnya sama dengan cara melengkungkan pelat dengan menggunakan pemanasan pendinginan pada pembangunan kapal baru yang dinamakan Linear Heating Methode.Sedangkan untuk meluruskan kembali dinamai “Fairing” atau pelurusan. Yang lekuk setempat dan gelombang dipanasi dengan alat pemanas Acetyline atau LPG sampai temperatur 500 derajat sampai 800 derajat celcius dan setelah itu didinginkan dengan air dingin.

    b. Reparasi Pelat yang Retak
    Seblum memperbaiki harus mengetahui ujung-ujung keretakan terlebih dahulu. Kedua keretakan dilubangi dahulu agar pada waktu pengelasan keretakan jangan sampai ngembang dan dibuatkan kampuh las bentuk V.U atau X dengan jarak kampuh 2 mm. Alasan dilakukan dengan cara Back Hand Step Welding atau pengelasan kepala Ekor dan pengelasan satu arah apabila panjang keretakan tidak panjang. Apabila keretakan cukup panjang maka pengelasan dilakukan dua arah dan sebelum pengelasan dipanasi sampai temperatur 150 derajat celcius pada daerah keretakan. Setelah pengelasan pada daerah keretakan dipasang plat rangkap untuk menutupi keretakan supaya tidak terjadi keretakan lagi dan pada pengedokan selanjutnya plat rangkap ini dipotong serta diganti dengan plat baru.

    c. Penggantian Setempat Plat Kulit.
    Penggantian setempat pelat yang disebabkan oleh: lubang, keausan, lekuk dan retak setempat harus mengikuti ketentuan bahwa ketebalan pelat dan kondisi balok konstruksi masih memenuhi persyaratan klasifikasi.
    Untuk pemotongan setempat plat dibuat 3 macam yaitu :
    1. Berbentuk bulat
    2. Berbentuk bujur sangkar
    3. Berbentuk empat persegi panjang

    Bentuk bujur sangkar dan empat persegi panjang ujungujungnya dibulatkan dengan jari-jari 0,1 lebarnya.
    …. Pengelasan sesuai angka I, II, III, dan IV dengan cara Back Hend Step Welding atau kepala Ekor apabila panjang tiap urutan pengelasan cukup panjang. Sebaiknya pemasangn pelat baru bertumpu minimal pada satu balok konstruksi dan pengelasan dengan balok konstruksi didahulukan sebelum pengelasan kampuh las sesuai urutan pada gambar, jarak melintang atau memanjang sambungan plat dengan balok konstruksi sekitar ¼ jarak balok konstruksi atau sekitar 150-200 mm. Bila sisi melintang atau memanjang terlalu dekat dengan kampuh melintang atau memanjang dari lajur pelat lama maka pemotongan diteruskan sampai kampuh melintang atau memanjang dari pelat lama tersebut.

    5. Penggantian Satu Lajur Plat Kulit
    a. Persiapan Sebelum Pemotongan Plat Kulit
    Sebelum pemotongan pelat dilakukan pekerjaan pendahuluan meliputi :

    * Menandai balok-balok melintang atau memanjang plat kulit dari luar dengan pertolongan Test Hammer serta kapur atau cat.
    * Memeriksa bagian dalam dari plat kulit yang merupakan :

    1. Tangki bahan bakar, air tawar / air laut atau bahan cair lainnya. Tangki bahan bakar dibersihkan dengan membuka tutup lubang orang (Man Hole Cover) dan dilakukan pengetesan dengan Gas Free Tester.
    2. Tangki air tawar atau air balas / air laut dikosongkan dulu dengan membuka prop lunas dan tutup lubang orang agar pemotongan plat mudah dilakukan.
    3. Isolasi atau lapisan dinding kamar yang mudah terbakar dibongkar terlebih dahulu.
    4. Pipa yang mengganggu pemotongan plat kulit dibongkar dahulu.
    5. Got terutama pada daerah kamar mesin yang terdapat genangan minyak pada got atau lokasi tersebut dibersihkan dahulu.

    * Mempersiapkan tenaga dan peralatan pemadam kebakaran pada lokasi yang rawan terhadap kebakaran.

    b. Pemotongan Pelat
    Pekerjaan pemotongan pelat kulit dilaksanakan dengan dua cara yaitu :

    * Pemotongan dari sisi luar. Pemotongan plat dilaksanakan setelah penandaan lokasi balokbalok melintang atau memanjang dengan kapur atau cat dan dilakukan diluar hubungan balok konstruksi dengan plat kulit agar jangan sampai balok konstruksinya ikut terpotong. Bagian plat kulit yang masih tersisa pada balok konstruksi harus dibersihkan.
    * Pemotongan dari sisi dalam, Pemotongan plat dilaksanakan langsung dari sisi dalam kapal (misalnya pada ruang palkah) d.n dapat langsung memotong sambungan balok konstruksi dengan plat kulit sehingga pekerjaan lebih cepat. Pemotongan garis kampuh las dilaksanakan sebagai berikut:

    1. Pemotongan plat lama tepat pada sumbu kampuh las melintang atau memanjang agar ukuran plat baru sesuai dengan ukuran lebar dan panjang plat lama dan sisa separuh materiallas lama dipotong untul pembuatan kampuh las.
    2. Pemotongan sisi melintang plat kulit lama diusahakan ¼ jarak gading terdekat karena timbulnya harga momen yang mendekati 0 pada beban merata yang bekerja pada plat kulit.
    3. Pemotonganb sisi memanjang plat kulitmemanjang plat kulit lama tidak boleh kurang dari 200 mm dari balok memanjang yang terdekat.P
    4. emotongan plat kulit yang tersisa pada balok-balok melintang atau memanjang harus dibersihkan.


    c. Pembuatan Rambu Pelat
    Setelah pemotongan plat lama dan pembuatan kampuh las selesai barulah dipersiapkan rambu plat yang terbuat dari plat dengan lebar 20 s/d 30 mm dan ketebalan 4 s/d 6 mm. dimana dalam arah melintang tepat pada garis gading dan dalam arah memanjang tepat pada balok konstruksi memanjang tepat pada balok konstruksi memanjang atau sambungan pelat.

    d. Pembuatan Pelat Baru Dibengkel
    Pembuatan plat baru yang rata minimal 2 sisi sudah dipersiapkan kampuh las sehingga tidak perlu lagi pemotongan pada waktu pemasangan dikapal, sedangkan pada plat baru dengan lengkung tunggal minimum satu sisi sudah dipersiapkan kampuh lasnya.

    e. Pemasangan Pelat Baru Di Kapal
    Urutan pemasangan plat baru adalah sebagai berikut :

    * Las ikat dilakukan dulu dengan balok-balok memanjang dan atau melintang setelah itu baru las ikat dengan sisi kampuh lasnya.
    * Pemasangan plat penahan yang terbuat dari plat dengan ketebalan sekitar 10 mm dipasang dengan sudut 70 s.d 80 derajat dengan kampuh lasnya dan jarak satu sama lain sekitar 400 s/d 500 mm. Dipasangnya plat penahan ini agar setelah pengelasan plat baru tidak mengalami perubahan kedudukan akibat deformasi las dan agar permukaan plat baru dan lama sama tingginya.
    * Pertama-tama dilas balok-balok melintangnya dimulai dari arah tengah kearah samping setelah itu pengelasan kampuh las dengan urutan sesuai gambar dilaksanakan dengan pengelasan kepala ekor supaya deformasi las tidak terlalu besar. Pelaksanaan pengelasan dilaksanakan dari sisi dalam selanjutnya dari sisi luar setelah diadakan penyerongan dengan carbon electrode dan penggerindaan.
    * Hasil pengelasan diperiksa dulu oleh pengawas las setelah itu oleh QA/QC (Quality Assurace / Quality Control) baru diundang Klasifikasi untuk pemeriksaan pengelasan dan tes kekedapan air.

    6. Reparasi Balok-Balok Konstruksi
    Balok-balok konstruksi juga mengalami kerusakan antara lain :
    pengkaratan, lekuk karena keluar, retak dan kerusakan lain dimana kerusakan ini harus diperbaiki atau diganti baru.

    a. Reparasi balok konstruksi yang meliputi :

    * Gading pada konstruksi lambung
    * Gading alas pada konstruksi dasar
    * Gading balik pada konstruksi alas dalam
    * Balok geladak pada konstruksi geladak
    * Penegar vertikal pada konstruksi dinding sekat kedap air atau dinding sekat pemisah pada bangunan atas atau rumah geladak.


    b. Pemeliharaan dan Perawatan Tali
    Agar tali-tali dapat tahan lama (awet) dan aman dalam penggunaannya, maka diperlukan pemeliharaan dan perawatan yang sesuai dan baik. Untuk maksud itu kita harus mengenal jenis-jenis, sifat dan karakteristik dari tali tersebut.

    c. Tali Kawat Baja (wire rope)
    Untuk pemeliharaan tali kawat baja pada umumnya sama dengan pemeliharaan tali serat, kecuali untuk tali jenis ini :

    * Agar sering diminyaki dengan jalan dibersihkan terlebih dahulu kotoran dengan sikat kawat dan minyak tanah, kemudian disemir dengan minyak pelumas (grease),
    * Digulung di dek atau pada tromol dengan gulungan berdiameter besar atau secara angka delapan.

    Rabu, 15 Desember 2010

    REPARASI GELADAK KAPAL/ DECK

    Demikian juga untuk reporasi geladak kapal, pada prinsipnya juga sama dengan reparasi lambung / alas. Namun ada hal – hal yang harusa diwaspadai :

    * Pada bagian geladak kapal bawah terletak kabel – kabel listrik atau pipa-pipa. Sehingga bila perbaikan tersebut sampai pada tingkat pemotongan, maka ada pelayaran awal yaitu penghilangan penghalang – penghalang tersebut ( kabel / pipa ).
    * Untuk geladak – geladak yang diatasnya ada mesin – mesin perlengkapan kapal seperti capstan motor – motor dsb. Yang perlu aligment pelaksanaan reporasi ini perlu berhati – hati.
    * Untuk reporasi geladak yang berhubungan dengan ambang palkah ( Hatch coaning ) yang menggunakan system Macgregor harus diwaspadai. Hal ini bisa terjadi bila pelaksanaan sampai memotong geladak waspadai deformasi pada hatch coaning. Bila terjadi deformasi tutup palkah ( Macregor ) sistem tidak bisa sempurna bekerjanya kurang kedap muatan rusak.
    * Untuk geladak – geladak akomodasi harus diwaspadai bahaya kebakaran (wallpaper, glasswool, pelapis lantai ) dsb.

    Adapun Jenis – jenis kerusakan pada geladak adalah :

    * Pengkaratan plat geladak tipis.
    * Deformasi pada plat geladak.
    * Kebocoran ( air masuk pada ruang lewasnya ).Untuk menghindari deformasi :
    Dalam hal perbaikan ini untuk lancarnya pelaksanaan, recomendasi perbaikan ini tidak terlepas dari BKI ( Biro Klasifikasi Indonesia ) sebagai lembaga independent yang bertugas menjamin dari segi kekuatan perbaikan tersebut.
    Kemudian ketentuan penggantian plat geladak adalah :
    Bila plat geladak tebalnya berkurang 20%. Bila reporasi geladak berlangsung diarea / tempat adanya mesin – mesin geladak ( windlas, capstan ) lebih baik mesin – mesin tersebut diatas sebisanya untuk dilepas / diangkat. Hal ini selain untuk memudahkan proses reparasi juga untuk menghindari / mengurangi adanya deformasi.

    Dasar-dasar Reparasinya adalah sebagai berikut :

    * Penggantian baru balok konstruksi mempunyai ukuran yang sama (bentuk, tebal, panjang tiap kaki) dengan ukuran profil yang lama
    * Penyambungan balok konstruksi yang berdekatan tidak boleh segaris demikian juga dengan kampuh las lajur plat.
    * Jarak antara kampuh las plat dengan kampuh las balok konstruksi yang terdekat sekitar 100-200 mm.
    * Pengelasan profil siku lama dan baru dilaksanakan dari kedua arah dan pada pengelasan sambungan plat diberi sealop.

    1. Reparasi Pelat Alas Dalam Tepat Pada Pertemuan Dengan Pelat SekatMelintang
    Lokasi pengkaratan pelat alas dalam terutama terjadi pada pertemuan dengan pelat sekat melintang.
    Terdapat 2 macam hubungan konstruksi antara pelat alas dalam dengan plat sekat melintang:

    * Dinding sekat melintang menerus dan pelat alas dalam terputus. Pelat sekat melintang pada pertemuan dengan pelat alas dalam mudah berkarat dan dipotong diatas dan dibawah pelat alas dalam sejarak 200-300 mm atau pada lajur plat. Setelah pemotongan dan pemasangan setempat pelat sekat melintang tersebut barulah dipasang pelat alas dalam yang baru dengan las sudut 2 arah.
    * Dinding sekat melintang terputus dan pelat alas dalam menerus. Penggantian pelat alas dalam dilakukan melebihi garis potong dengan pelat dinding sekat melintang minimum ¼ jarak gading atau diteruskan pada lajur terdekat. Pelat sekat melintang potongannya harus hati-hati agar jangan sampai terjadi celah yang terlalu besar dan dipotong setinggi 200-300 mm untuk mempermudah pemasangan pelat alas dalam baru.

    2. Reparasi Pelat Linggi Haluan
    Penggantian pelat tinggi haluan lengkung ganda dalam pembentukkannya dibuat dengan lengkung secukupnya agar pekerjaan pengepresan pelat tidak mengalami kesulitan.

    * Penggantian pelat lambung yang berhubungan dengan pelat linggi haluan menggunakan bilah pelat (Backing Strip) dengan lebar minimum sebesar 1,5 S 10 mm, dimana S adalah tebal pelat lambung, terutama pada kapal kecil karena sempitnya daerah dihaluan kapal.
    * Backing Strip dilaskan dulu dengan pelat lambung lama dan pelat lambung baru dipasang dengan jarak 1,5 S agar diperoleh penetrasi las yang baik karena pengelasan hanya dapat dilakukan dari satu arah.
    * Backing Strip ini dipasang pada wrang atau gading.
    * Lebar lubang las isi, panjang, dan jarak antara lubang untuk las ini tergantung tebal pelat kulit lambung yang dilubangi.

    3. Reparasi Pelat Lunas Horizontal (Keel Plate)

    * Penggantian pelat lunas horizontal perlu membongkar balok-balok lunas dari Dock dan harus diimbangi dengan pemasangan sementara balok-balok tambahan dikanan dan kiri lokasi penggantian plat lunas horizontal tersebut untuk mengurangi tegangan awal yang timbul.
    * Penggantian plat lunas pada daerah ruang palkah dapat dilaksanakan sepanjang panjang plat (6 m) dan pada kamar mesin karena adanya beban motor induk penggantian plat lunas secara bertahap sepanjang setengah panjang plat.
    * Setelah plat baru dipasang meskipun belum dilaksanakan pengelasan kampuhnya balok-balok lunas dipasang kembali untuk mengurangi tegangan awal.
    * Perbedaan tebal plat lunas dengan plat dasar yang berdekatan melebihi 4 mm penyambungan plat dilakukan dengan menyerong plat yang lebih tebal sampai setebal plat yang tipis agar jangan sampai terjadi konsentrasi tegangan pada pengelasan sambungan plat.

    4. Reparasi Pelat Kulit Pada Daerah Kamar Mesin Dan Buritan Kapal.
    Penggantian pelat lambung dan dasar pada kamar mesin dan tinggi buritan akan pengaruh pada kelurusan garis poros yaitu poros balingbaling. Poros antara dan motor induk perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

    * Baut-baut pas motor induk dengan fondasi dilepas agar deformasi las tidak akan berpengaruh terhadap motor induknya sendiri.
    * Motor Induk dan peralatan lainnya dianjurkan diangkat dari fondasinya supaya tegangan awal tidak terlalu besar dan memudahkan pengelasan.
    * Menambah tumpuhan-tumpuhan tambahan misalnya balok-balok samping agar mengurangi tegangan awal.
    * Penggantian 1 lembar plat kulit disarankan plat kulit simetris lainnya diganti juga agar deformasi las juga simetris.
    * Penggantian plat kulit yang cukup banyak disarankan dilaksanakan secara bertahap, secara simetris dan disertai penempatan tumpuhan sementara.
    * Sebelum pengelasan perlu diperhatikan :

    o Persiapan kampuh las dan jarak antara kampuh
    o Tenaga las dan jenis electrode yang memenuhi syarat
    o Urutan pengelasan yang benar untuk mendapatkan deformasi las yang minimum.

    * Pelaksanaan reparasi plat kulit diburitan kapal sama seperti pada kamar mesin dan hal lain yang perlu diperhatikan adalah :

    1. Deformasi pengelasan pada pemasangan plat baru dapat menyebabkan kedudukan garis poros kemudi dan garis poros baling-baling mengalami perubahan.
    2. Pada daerah buritan yang sempit tidak memungkinkan pengelasan dilakukan dengan sempurna Adalah reparasi konstruksi yang karena sifat & kondisinya perlu perhatian khusus contoh yang sederhana :1. Reparasi alas kapal dibawah kamar mesin.2. Reparasi buritan kapal. 3. Reporasi linggi depan kapal. 4. Reparasi sekat.


    5. Reparasi alas kapal dibawah kamar mesin :
    Reparasi pada daerah ini biar sekecil apapun, akan mengakibatkan adanya deformasi yang menyebabkan tidak sempurnanya aligment poros baling – baling dan mesin induk kapal, lebih – lebih pada plat – plat yang sangat berdekatan dengan pondasi mesin induk.
    Misalnya : - Plat dibawah pondasi mesin induk - Plat Konstruksi mesin induk.

    Pada kasus seperti disebutkan diatas, maka saat berlangsungnya reporasi harus Benar – benar diwaspadai. Untuk mengatasinya atau mengurangi deformasi yang berlebihan :

    * Saat reparasi boretmur pengikat mesin induk pada pondasinya harus dikendorkan / dilepas.
    * Pada waktu diadakan pemotongan plat pondasi yang rusak kalau bisa sedikit demi sedikit atau bagian perbagian.
    * Pada saat pengelasan konstruksi dimaksud, diupayakan dengan system.

    Setelah pekerjaan reparasi selesai, maka diadakan lagi pemeriksaan kelurusan poros ( aligment ) lagi untuk menjamin bahwa reparasi benar – benar sempurna.
    Untuk save / amannya, maka setiap selesai 1 bagian pengelasan harus diadakan pemeriksaan aligment. Demikian juga setelah pengelasan selesai, maka diadakan juga pemeriksaan hasil pengelasan :
    1. Press test ………….. terutama pada bag alas / lunas kapal.
    2. Nose test …………… dsb.
    Sebelum diadakan pekerjaan reparasi pada bagian dibawah kamar mesin. harus benar – benar dibersihkan dari segala kotoran – kotoran seperti oli, minyak – minyak yang biasanya terkumpul dibawah mesin induk ( free gas ). hal ini dilakukan untuk menghindari adanya bahaya kebakaran.

    6. Reparasi Wrang Dan Penumpu Dasar
    Apabila ketebalannya masih memenuhi syarat perbaikan dilaksanakan dengan pemotongan setempat pada daerah yang lekuk, selanjutnya diganti dengan pelat baru. Cara pemotongan, penggantian baru dan pengelasannya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    7. Reparasi Penumpu Geladak, Gading Besar, Sentasisi.
    Reparasi penumpu geladak, gading besar, sentasisi dan balok-balok konstruksi lainnya yang berbentuk profil T, dilaksanakan penggantiannya pada seluruh tinggi profil dan pengelasan sambungan pada pelat vertikal dan pelat bilah hadap tidak terletak pada satu bidang demikian juga sambungan pelat vertikal dengan pelat kulit.

    ALAT PEMADAM KEBAKARAN (Fire Appliances)

    Sebab-sebab terjadinya kebakaran dapat dibagi menjadi 3 faktor :
    • Barang padat, cair atau gas yang dapat terbakar (kayu, kertas, textil, bensin, minyak, acetelin dan lain-lainnya).
    • Suhu yang sedemikian tingginya, hingga menimbulkan gas-gas yang mudah menimbulkan kebakaran.
    • Adanya zat asam (O2) yang cukup untuk mengikat gas-gas yang bebas. Ikatan-ikatan ini diikuti dengan adanya gejala-gejala kebakaran dan suhu yang tinggi sehingga kemudian terjadilah kebakaran.. bila pengikatan ini berjalan dengan cepat maka akan terjadi ledakan.
    Apabila salah satu sisi dari segitiga tersebut diatas dibuang, maka tidak mungkin terjadi kebakaran. Jadi setiap kebakaran dapat dipadamkan dengan cara, sebagai berikut :
    • Dengan menurunkan suhunya dibawah suhu kebakaran.
    • Menutup jalan masuknya zat asam.
    • Menjauhkan barang-barang yang mudah terbakar, untuk membatasi menjalarnya api (cara yang terakhir ini jarang dilakukan diatas kapal)
    Yang sangat penting adalah pertolongan pertama pada kebakaran, karena kebakaran dimulai dari api kecil. Alat-alat pemadam api yang kecil dinamakan pemadam cepat atau “Extinguisher”, dimana jenis dan macamnya banyak sekali, dengan merk yang berlainan.

    Syarat-syarat portable extinguisher :
    • Isi dari estinguisher yang dapat dijinjing harus antara 9 sampai 13,5 liter dan warnanya harus merah.
    • dicoba dan diperiksa secara teratur.
    • portable extinguisher dimana dipergunakan untuk suatu ruangan yang tertentu, harus ditempatkan dekat ruangan itu.
    Beberapa ketentuan-ketentuan portable extinguisher
    • Larutannya tak boleh mengedap atau menjadi kristal atau tak boleh cepat membeku.
    • Tak boleh merusak tabung dan alat-alat lain.
    • Harus disertai petunjuk cara pemakaiannya pada setiap extinguisher
    • Isinya harus mudah didapat dengan harga yang murah.
    • Botolnya harus tahan tekanan dalam, paling sedikit 20 kg per m^3.
    Jumlah pemadam kebakaran alat-alat itu dipergunakan bermacammacam pengisian, hal ini cukup jelas karena kebarakan dikapal dapat dibedakan sebagai berikut :
    1. Kebakaran pada barang biasa (kayu, kertas, textil dan sebagainya), dimana pemadamnya dengan pendinginnya dari air atau campuran yang mengandung prosentase air yang banyak adalah terbaik.
    2. Kebakaran dalam zat-zat cair yang mudah terbakar (solar, bensin dan sebagainya), dimana pemadamnya dilakukan dengan menutup dengan busa, pasir dan sebagainya.
    3. Kebarakan pada atau didekati instalasi listrik, dimana alat pemadamnya tidak boleh terdiri dari bahan yang dapat menghantar aliran listrik.
    Kebanyakan dari extinguisher didasarkan atas sistem sebagai berikut :
    Terdiri dari tabung logam yang berisi suatu larutan dalam air (tidak boleh diisi penuh). Di dalam tabung ini terdapat tabung gelas yang kecil berisi zat asam yang keras (misalnya campuran asam belerang dan asam garam).
    Umumnya tabung ini tertutup dan dengan knop tekan dapat dipecahkannya.
    Pada beberapa jenis yang lain dibuat sedemikian rupa, hingga kalau dibalik akan mengalir keluar.
    Setelah asam keras itu karena pecah tadi mengalir ke larutan, maka keluarlah zat asam arang (CO2) hingga menimbulkan tekanan 4 – 8 atmosfer pada larutan itu.
    Bila krannya dibuka, maka melalui sebuah pipa penyembur keluarlah pancaran air pemadam yang kuat. Jarak penyemburannya mencapai 12 meter tinggi penyemprotannya mencapai 8 meter.
    Daya penyemprot yang tinggi dapat dipergunakan untuk memadamkan kebakaran-kebakaran ditempat yang tinggi letaknya.
    Dengan daya semburnya yang jauh, sebuah kebarakan dapat dipadamkan dari jarak yang cukup aman.
    Keterangan No. 2 Tak dapat diharapkan bahwa extinguisher itu akan tetap dalam keadaan baik sampai bertahun-tahun tanpa pemeriksaan dan pembaharuan isinya.
    Oleh karena itu “Pemadam cepat” ini paling sedikit setiap 2 tahun harus dicoba dan pembaharuan isinya, lalu diberi catatan tanggal, bulan dan tahunnya agar dapat diketahui botol itu diperbaharui isinya apabila ada pemeriksaan.
    Bagi pemadam kebarakan barang-barang yang dapat terbakar sendiri (bensin, minyak, bahan bakar, dan lain-lain) kita gunakan botol extinguisher yang berisi larutan yang berbusa. Botol-botol ini menghasilkan busa yang terdiri dari massa asam arang yang melekat menjadi satu sama lain, yang bila disemprotkan pada tempat kebakaran akan merupakan lapisan yang liat, yang tak tertembus oleh gas-gas pembakar pada pipa penutup hubungan dengan udara.
    Busa itu terdiri dari persenyawaan dari asam dan basa larutan garam, misalnya larutan bicarbonat dan aluminium sulfat.
    Beserta suatu bahan yang menimbulkan liat atau perekat pada gelembunggelembung busa (disebut Soponine).
    Bagi extinguisher yang dipergunakan untuk kebakaran instalasi listrik atau kamar radio, kita sebut “Pemadam halogeen”. Botol ini diisi dengan zat arang tetrachloor, suatu cairan yang sudah
    menguap dan menjadi gas yang sangat menyesakkan. Keuntungan dari zat arang tetrachloor atau halogeen (umpama Chloorbreomethan) ini ialah tak dapat menyalurkan atau menghantarkan listrik.
    Bahan-bahan ini umumnya tidak dipergunakan pada ruangan-ruangan tertutup karena menimbulkan uap yang beracun.

    1.Pemadam Kebakaran dengan Air
    Alat pemadam yang sering tersedia dengan mudah adalah air, karena dikapal dapat diperoleh dengan jumlah yang tak terbatas.
    Air adalah alat pemadam yang baik karena akan mendinginkan barangbarang di bawah derajat panas sehingga akan melindungi barang lain yang belum terbakar. Penggunaan air sebagai pemadam kebakaran menimbulkan kerugiankerugian karena sering mengakibatkan kerusakan yang besar, tidak hanya harus dipergunakan air yang banyak yang disiramkan pada tempat kebakaran saja, akan tetapi juga pada barang-barang yang ada disekitarnya. Oleh karena itu dalam beberapa hal/kejadian maka penggunaan air untuk pemadam api tidak diperkenankan yaitu :
    • Apabila dengan adanya air dapat menyebabkan suhu yang sangat tinggi (muatan apur mentah) atau menimbulkan gas-gas yang meledak, misalnya : acetelin pda calcium. Carbid dan gas letup pada logam-logam ringan (Ca, K, Na) dan kebakaran batu bara.
    • Apabila adanya air menyebabkan menjalarnya kebakaran pada benda itu misalnya : Kebakaran minyak.
    • Apabila persenyawaan yang akan menimbulkan letusan.
    • Apabila massa air itu akan membahayakan stabilitas kapal.
    Syarat-syarat untuk Pompa dan Pipa Kebakaran
    • Setiap pompa harus dapat memberikan 2 pancaran air yang kuat, jarak jangkau dari pancaran ini paling sedikit sejauh 12 meter, jumlah pompa-pompa ini tergantung jenis dan besarnya kapal.
    • Kran-krean kebakaran (Hydrants) harus ditempatkan dengan jarak masingmasing tidak lebih dari 25 m.
    • Keran-keran alat penutup, peti-peti, selang air dan lain-lainnya harus berwarna merah.
    • Kalau ada muatan digeladak harus disiapkan keran-keran kebakaran (hydarnt) yang mudah dicapai orang.
    • Diameter bagian dalam selang kebakaran (fire house) menurut ukuran standar 2½ inch dan panjang standart 60 ft. Selang kebakaran harus dilengkapi dengan corong pemancar (lioze nozzle) yang dapat mengatur kecepatan air dengan diameter standart ½ inch (atau 12 m/m). 5/8 inch (atau 16 m/m) dan ¾ inch (atau 20 m/m).
    • Setiap fire house harus dapat dipasang sewaktu pompa-pompa kebakarannya sedang bekerja. Harus ada satu atau lebih pompa-pompa mesin yang bekerjanya tidak tergantung mesin induk, syarat ini diperlukan karena pompa-pompa ini juga harus dapat dipergunakan selama kapal berada di pelabuhan. Disamping itu pompa-pompa ini dapat digunakan untuk maksud-maksud lain misal pompa balas.
    Umumnya pompa-pompa kebakaran diletakkan dikamar mesin, hanya kerugiannya kalau kebetulan ada kebakaran dalam kamar mesin tdak ada pompa yang dapat digunakan.

    2.Fire House (selang kebakaran)
    Selang kebakaran dibuat dari terpal yang dianyam secara keliling tanpa adanya sambungan.

    Keuntungannya :
    • Karena selang dari terpal dapat ditembus air maa sedikit kemungkinannya ikut terbakar.
    • Tidak banyak membutuhkan tempat penyimpanan.
    • Ringan dan mudah pemakaiannya.
    Kerugiannya :
    • Tak begitu kuat bila dibandingkan selang karet.
    • Sesudah dipakai harus dikeringkan terlebih dahulu sebelum disimpan.
    • Dalam penyimpanan perlu sekali-kali dijemur, karena dapat rusak oleh lembab udara.
    Disamping itu ada selang-selang yang terbuat dari karet.
    Keuntungannya :
    1. Karet lebih kuat.
    2. Tidak terpengaruh oleh udara basah, sehingga tidak perlu dikeringkan sesudah dipakai
    Kerugiannya :
    1. Makan banyak tempat
    2. Lebih berat

    Kesimpulan : untuk dipergunakan sebagai selang kebakaran terpal lebih baik dari selang karet, tapi untuk pencuci geladak, selang karet lebih baik dari selang terpal. Sedang yang terbaik ialah yang terbuat dari bahan nylon.
    Keuntungannya :
    1. Tidak bocor
    2. Tidak kehilangan tekanan
    3. Tidak lekas rusak, membusuk atau berjamur
    4. Tidak terpengaruh oleh hawa dingin
    5. Mudah digulung gepeng, berarti tidak memakan banyak tempat
    6. Tidak perlu dikeringkan
    7. Lebih ringan berarti mudah pelayanannya

    3.Hose Nozzle
    Hose Nozzle dapat disetel/diatur sebagai pancaran atau pancaran siram. Dengan memutar kepala dari corong ini, maka air itu akan meluas pancarannya sebagai pancaran siram yang merupakan payung air. Dengan memutar terus maka payung air itu akan lebih halus dan bila diputar terus akhirnya akan tertutup. Cara memutarnya sedikit demi sedikit untuk menghindari tekanantekanan sentakan yang dapat merusak selang.
    Keuntungan payung air adalah dapat melenyapkan asap sehingga si pemadam dapat lebih dekat dengan api dan merupakan pelindung yang baik dari panasnya api.
    Contoh : fyrex triple-purpose nozzle seperti gambar dibawah dengan standart diameter fire house 2½ inch dengan tekanan 50 lb/m^2 menghasilkan pancaran.

    Tekanan air minimum pada Hydrant ditetapkan oleh SOLAS 1960 sebagai berikut :
    Kapal Penumpang :
    1. 4000 BRT dan lebih tekanannya 3,2 kg/cm2
    2. 1000 BRT dan lebih tetapi dibawah 4000 BRT tekanannya 2,… kg/cm2
    3. Dibawah 1000 BRT tekanannya berdasarkan persetujuan pemerintah.

    Perlengkapan regu kebakaran terdiri dari
    • Alat untuk bernafas:masker selang, masker filter, masker gas zat asam
    • Tali penolong yang cukup panjangnya dan tak dapat terbakar
    • Lampu kebakaran
    • Kampak kebakaran
    Untuk dapat memasuki ruangan yang terdapat asap yang tebal atau gas-gas yang beracun atau kekurangan zat asam harus menggunakan masker atau alat lain yang memungkinan orang untuk tinggal diruangan dimana terjadi kebakaran.
    Bila masker tidak ada atau rusak, sesungguhnya alat pemadam kebakaran tidak berguna sama sekali.
    Apabila orang mencapai tempat kebakaran, maka asap dan gas tidak boleh merupakan suatu hambatan baginya. Gejala dari keracunan asap, kesakitan mata dan sebagainya tidak perlu dirasakan dengan adanya alat tadi, sehingga pemadam dapat dilaksanakan dengan baik.

    4. Busa sebagai alat pemadam kebakaran
    Busa sebagai alat pemadam kebakaran akan menutupi barang yang trebakar, sehingga aliran udara terputus. Diperlukan busa yang cukup tebal dan enyal agar dapat menahan gasg-as yang timbul karena pemanasan.


    4. Bubuk sebagai alat pemadam
    Pemadam bubuk tidak hanya digunakan untuk kebakaran kecil, tetapi untuk kebakaran yang besar. Asam arang digunakan untuk penekan pada extinguishernya untuk mengeluarkan bubuk sedangkan pada instalasi yang bersar alat penekannya dipakai zat lemas dalam botol-botol, karena pada penuaian asam arang yang cair atau berupa gas akan terjadi pembekuan atau Cs dan juga tekanan di dalam cilinder CO2 tergantung dari suhu sekelilingnya.

    Keuntungan dari pemadam bubuk
    • Dapat digunakan untuk kebakaran cairan atau gas
    • Tidak berbahaya bagi kebakaran listrik, dan tidak membahayakan sipemakai.
    • Tidak menimbulkan kerusakan pada barang sekitarnya.
    • Kapasitas pemadamnya 3 sampai 4 kali lebih besar dari biasa.
    6. Pemadam api dengan menutup aliran udara
    Sudah dijelaskan dimuka bahwa kebakaran dapat dipadamkan dengan memutuskan hubungan dengan udara yang berarti juga menghilangkan zat asam yang menyebabkan dengan menutup aliran udara. Udara yang bersih mengandung 21% zat asam dan 79% zat lemas. Apabila kebakaran disuatu ruangan itu sedemikian hingga zat asam tadi habis terpakai untuk pembakaran, maka akhirnya api akan padam dengan sendirinya, hal ini terjadi apabila zat asamnya kurang dari 15%.