Sabtu, 13 Agustus 2011

NAMA-NAMA SUCI CALON MAHASISWA/MAHASISWI TEKNIK PERKAPALAN POLITEKNIK NEGERI BENGKALIS ANGKATAN 2011-2012


TEKNIK PERKAPALAN

Þ     MIDSHIP = BAGIAN TENGAH LAMBUNG KAPAL.

Þ     ANCHOR = JANGKAR.

Þ     MAIN ENGINE = MESIN UTAMA KAPAL.

Þ     PROPELLER = BALING-BALING.

Þ     RUDDER = DAUN KEMUDI.

Þ     FORDWARD = BAGIAN DEPAN LAMBUNG KAPAL.

Þ     DOUBLE BOTTOM = KONSTRUKSI KAPAL DASAR BERGANDA.

Þ     BODY PLAN = PENAMPANG VERTIKAL KAPAL (TAMPAK DEPAN).

Þ     DRAFT = SARAT KAPAL. SARAT KAPAL TERBAGI MENJADI DUA, YAITU SARAT MUATAN PENUH DAN SARAT MUATAN KOSONG.

Þ     BASE LINE = GARIS DASAR

Þ     FRAME = GADING. GADING TERBAGI MENJADI DUA, YAITU GADING UTAMA (MAIN FRAME) DAN GADING BESAR ( WEB FRAME ).

Þ     BOLLARD = TEMPAT PENGIKAT TALI TAMBAT KAPAL.

Þ     CHAIN LOCKER = LUBANG YANG TERDAPAT PADA BAK PENYIMPANAN RANTAI JANGKAR YANG BERFUNGSI UNTUK MEMBUANG KOTORAN DAN AIR LAUT YANG MENEMPEL PADA JANGKAR.

Þ     POOP DECK = GELADAK KIMBUL.TERLETAK PADA BAGIAN AFTER. PANJANGNYA ADALAH 20%-22% LPP (LENGHT BETWEN PERPENDICULAR).

Þ     MAIN DECK = GELADAK UTAMA

Þ     BULLWARK = BAGIAN LANTAI KAPAL PADA FORDWARD YANG DIBUAT TINGGINYA 2 M DARI MAIN DECK.

Þ     BULKHEAD = SEKAT. SEKAT TERBAGI ATAS : SEKAT CERUK BURITAN (STERN TUBE BULKHEAD), SEKAT RUANG MESIN (ENGINE ROOM BULKHEAD), SEKAT RUANG MUAT (MIDSHIP BULKHEAD), DAN SEKAT TUBRUKAN / CERUK HALUAN  ( COLLISION BULKHEAD).

Þ     DISPLACEMENT = BERAT AIR YANG DIPINDAHKAN OLEH BADAN KAPAL DIDALAM AIR.

Þ     OIL  TANK = RUANG MUAT BERUPA TANGKI MINYAK ( KHUSUS PADA KAPAL TANKER).

Þ     FORECASTLE = BAGIAN SISI KIRI-KANAN KAPAL YANG BERBENTUK DINDING PELAT YANG FUNGSI AGAR TIDAK TERJADI KECELAKAAN BAGI ANAK BUAH KAPAL SAAT PENAMBATAN TALI KAPAL. TINGGINYA BERKISAR ANTARA 0,9 - 1,4 METER. PANJANGNYA ADALAH 8%-10% LPP (LENGHT BETWEN PERPENDICULAR).

Þ     GRAVITY = TITIK BERAT KAPAL.

Þ     BONJEAN = GAMBAR GARIS LENGKUNG YANG MERUPAKAN BESARAN TIAP-TIAP STATION DARI SARAT NOL SAMPAI GELADAK.

Þ     WATER LINE = GARIS AIR.

Þ     BOAT DECK = GELADAK SEKOCI. GELADAK YANG DIGUNAKAN UNTUK PENEMPATAN SEKOCI ATAU DEWI-DEWI SEBAGAI ALAT KESELAMATAN PELAYARAN.

Þ     BRIDGE DECK = GELADAK JEMBATAN.

Þ     STERN TUBE = TABUNG POROS YANG DIGUNAKAN SEBAGAI MEDIA PELUMASAN POROS PROPELLER DENGAN BEARING, JUGA DAPAT BERFUNGSI SEBAGAI PENYEKAT JIKA TERJADI KEBOCORAN. PADA PERENCANAAN INI, SEBAGAI PELUMAS POROS DIGUNAKAN AIR.

Þ     TONNAGE ( TONASE ) = KEMAMPUAN DAYA ANGKUT KAPAL.

Þ     HYDROSTATIC = GARIS LENGKUNG YANG TERDIRI DARI BEBERAPA MACAM KURVA UNTUK MENGETAHUI KARAKTERISTIK BADAN KAPAL YANG TERBENAM DI DALAM AIR.

Þ     FREEBOARD (DISEBUT JUGA PLIMSOLLMARK ATAU LOAD LINE.) = TINGGI TEPI GELADAK DARI PERMUKAAN AIR YANG DIUKUR PADA MIDSHIP ATAU DISEBUT JUGA MARKA KEAMBANGAN/LAMBUNG TIMBUL ATAU DAYA APUNG CADANGAN KAPAL.

Þ     METACENTRE = TITIK TENGAH KAPAL (METASENTRA).

Þ     BUOYANCY = TITIK TEKAN KE ATAS.

Þ     PORT  SIDE = SISI KIRI LAMBUNG KAPAL.

Þ     STARBOARD = SISI KANAN LAMBUNG KAPAL.

Þ     CARGO HOLD = RUANG MUAT KAPAL ( NON KAPAL TANKER).

Þ     LIFE  JACKET = JACKET KESELAMATAN.

Þ     LIFEBUOY = ALAT KESELAMATAN PELAYARAN YANG BERUPA PELAMPUNG.

Þ     BREADHT = LEBAR KAPAL.

Þ     AFTER = BAGIAN BELAKANG KAPAL.

Þ     STEM = HALUAN.

Þ     STERN = BURITAN.


Sabtu, 08 Januari 2011

H I M K A

HIMPUNAN MAHASISWA TEKNIK PERKAPALAN
( H I M K A ) 
POLITEKNIK BENGKALIS
BASECAMP  : 
WORKSHOP 3,  GEDUNG C POLITEKNIK BENGKALIS 
JLN. BATHIN ALAM , 
SEI.ALAM, 
BENGKALIS, RIAU
28751

Rabu, 05 Januari 2011

TEKNIK PERKAPALAN - NAVAL ARCHITECTURE - MARINE ENGINEERING

Teknik Perkapalan adalah suatu disiplin ilmu keteknikan yang mempelajari sebuah sistem kerja kapal yang menyangkut perencanaan dan pembangunan sebuah kapal mulai dari bentuk badan kapal dan rencana umum, kebutuhan daya mesin, struktur dan stabilitas, serta pengoperasian kapal yang sudah jadi untuk memenuhi kebutuhan manusia dalam hal sarana transportasi. Ilmu Teknik Perkapalan juga diterapkan dalam perkembangan bahari/kelautan di Indonesia, antara lain digunakan sebagai eksplorasi hidrokarbon laut, fishing (pemancingan, red), rekreasi laut, dan juga transportasi.

APA YANG DIPELAJARI DI TEKNIK PERKAPALAN
Mahasiswa Teknik Perkapalan dididik agar memiliki pengetahuan dan ketrampilan professional yang mampu mengawaki galangan kapal, baik sebagai tenaga struktural (Manager, Factory Assistant, dan lain-lain) maupun tenaga fungsional (Marine Surveyor, Supervisor, Welding Inspector, Welding Engineer, dan lain-lain).
Keahlian yang diberikan kepada mahasiswa Teknik Perkapalan meliputi keahlian perencanaan kapal yang juga termasuk teori bangunan kapal, seperti: hidrostatik, stabilitas, trim, peluncuran dan lain-lain. Dan juga keahlian dalam bidang kekuatan, struktur serta teknologi pembangunan dan reparasi kapal, serta keahlian tambahan lainnya. Untuk itu, terdapat beberapa bidang keahlian yang dapat ditekuni oleh mahasiswa Teknik Perkapalan. Bidang keahlian tersebut antara lain adalah: Teknik Perencanaan dan Transportasi Laut, Konstruksi dan Kekuatan, Hidrodinamika, dan Teknik Produksi Kapal

PROSPEK LULUSAN TEKNIK PERKAPALAN

 Lulusan Teknik Perkapalan diharapkan mampu menguasai prinsip-prinsip perancangan kapal yang berkaitan dengan masalah struktur, dinamika, hidrodinamika, teknik produksi dan teknik komputasi. Kemampuan intelektual, profesionalisme serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan teknologi memungkinkan lulusan Teknik Perkapalan mampu berkiprah dan sukses di bidang-bidang lainnya. 

Adapun bidang/keahlian yang berkompeten dengan Teknik Perkapalan diantaranya adalah :
  1. Tenaga ahli untuk bidang perencanaan, pembangunan, perbaikan kapal dan alat apung lainnya pada industri maritim.
  2. Pemilik maupun pengawas pada perusahaan pelayaran.
  3. Quality Surveyor pada pengerjaan digalangan kapal nasional maupun internasional.
  4. Perencana dan konsultan pembangunan kapal.
  5. Tenaga ahli perkapalan dilingkungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.
  6. Tenaga ahli pada laboratorium teknik perkapalan.
  7. Tenaga edukatif pada perguruan tinggi dan Sekolah Menengah Kejuruan.
  8. Tenaga ahli pada industri mesin-mesin dan peralatan, serta industri penunjangnya.
  9. Inspector ataupun Quality Control pada pengerjaan digalangan kapal. 


    PEMBUATAN KAPAL RO-RO PEMKAB BENGKALIS, KMP.TASIK GEMILANG.
    PT. KOJA BAHARI PALEMBANG, SUMATERA SELATAN.

    PROSPEK INDUSTRI PERKAPALAN INDONESIA

    Sabtu, 01 Januari 2011

    KLASIFIKASI KAPAL

     





    Klasifikasi kapal adalah aktifitas yang bertujuan untuk mengategorikan kapal ke dalam suatu kelas-kelas tertentu. Sejarah klasifikasi kapal, dimulai sekitar tahun 1760-an, dari sebuah coffe shop milik Edward Lloyd di London, pada saat itu di kedai kopi tersebut banyak berkumpul orang-orang yang dalam bisnisnya berhubungan dengan dunia perkapalan, mulai dari pelaut, pemilik kapal sampai dengan pihak asuransi. Sampai akhirnya timbul ide dari Edward Lloyd untuk melakukan pencatatan (registrasi) terhadap kapal-kapal yang pemiliknya sering berkumpul di kedai kopinya. Dan singkat kata dari daftar kapal tersebut yang akhirnya terbentuklah Lloyd’s Register of Shipping (LRS) pada tahun 1760.
    Pada awalnya kapal-kapal tersebut dikelaskan dengan kelas A,B,C,D sesuai dengan kondisi kapal tersebut sesuai dengan penilaian para surveyornya yang kebanyakan merupakan para mantan kaptain kapal. Sampai pada akhirnya diterbitkanlah rule LRS yang pertama, rule ini dipakai sebagai standard teknis untuk pengklasifikasian kapal, dan terus menerus dilakukan penelitian dan pengembangan sesuai dengan teknologi dan perkembangan dunia perkapalan.
    Bahkan pada saat ini telah diterbitkan pula LR rule untuk kapal perang.
    Dan LRS terus berkembang sampai dengan saat ini dengan berbagai diversifikasi inspeksi teknisnya tidak hanya terbatas dengan kapal, tetapi juga fasilitas apung seperti FPSO (Floating Production Storage & Offloading Unit), FSO (Floating Storage & Offloading Unit), MODU (Mobile Offshore Drilling Unit), platform serta di railway, transportasi, pembangkit listrik dan bidang industri yang lain.Dan kemudian beberapa badan klasifikasi berdiri di negara lain seperti Bureau Veritas (BV) di Perancis yang didirikan pada tahun 1826, Det Norske Veritas (DNV) di Norwegia pada tahun 1864, Germanischer Lloyd (GL) pada 1867 di Jerman, serta beberapa negara di luar Eropa seperti Jepang dengan berdirinya Nipon Kaiji Kyokai (Class NK) pada tahun 1899 dan di Amerika Serikat berdiri American Bureau of Shipping (ABS) tahun 1862. Pada saat ini telah banyak berdiri badan klasifikasi di berbagai negara yang bekerja terutama untuk kapal-kapal berbendera atau yang dimiliki pemilik lokal negara tersebut.


    Beberapa dari badan klasifikasi ini berasosiasi membentuk suatu asosiasi internasional yang disebut IACS (International Association Classification Society) yang merupakan salah satu anggota komite teknis dari IMO.
     

    Anggota IACS pada saat ini adalah:

    Lloyd's Register of Shipping (LRS) berdiri 1760 di London , Inggris

    Bureau Veritas (BV) berdiri 1828 di Paris, Perancis

    Registro Italiano Navale (RINA) berdiri 1861 di Genoa, Italia

    American Bureau of Shipping (ABS) berdiri 1862 di Houston, Amerika Serikat

    Det Norske Veritas (DNV) berdiri 1864 di Oslo, Norwegia

    Germanischer Lloyd (GL) berdiri 1867 di Hamburg, Jerman

    Nippon Kaiji Kyokai (NKK) berdiri 1899 di Tokyo, Jepang

    Russian Maritime Register of Shipping (Российский морской регистр судоходства) berdiri 1913 di St Petersburg, Russia

    China Classification Society (CCS) berdiri 1956 di Beijing, RRC

    Korean Register of Shipping (KR) berdiri 1960 di Daejeon, Korea Selatan

    Badan-badan klasifikasi anggota IACS mempunyai suatu sistem prosedur yang standard dalam hal-hal yang mendasar seperti pola training surveyor, kode etik dan banyak hal lainnya terutama dalam hal prosedur operasionalnya.

    Untuk memastikan system tersebut secara konsisten diterapkan oleh masing-masing anggotanya maka IACS melakukan audit setidaknya satu kali setiap tahun pada setiap anggotanya.

    Disamping itu banyak lagi badan klasifikasi di negara lainnya yang diluar organisasi IACS, antara lain:

    Hellenic Register of Shipping (HRS) berdiri 1919 di Pireus, Yunani

    Indian Register of Shipping* (IRS) berdiri 1975 di Mumbai, India

    Polish Register of Shipping (PRS) berdiri 1936 di Gdańsk, Polandia

    Croatian Register of Shipping (CRS) berdiri 1949 di Split, Kroasia

    Biro Klasifikasi Indonesia (BKI) berdiri 1964 di Jakarta, Indonesia

    Registro Internacional Naval (RINAVE) berdiri 1973 di Paris, Perancis

    Brazilian Register of Shipping (RBNA) berdiri 1982 di Rio de Janeiro, Brazil

    International Register of Shipping (IROS) berdiri 1993 di Miami, Amerika Serikat

    iranian Classification  Society (ICS) berdiri 2007 di Tehran, Iran

    Catatan:* Associated member of IACS

    Badan-badan klasifikasi ini bisa mengajukan diri untuk menjadi anggota IACS, dan kemudian jika hasil audit IACS menyatakan bahwa badan ini bisa diterima maka akan diterapkan suatu periode dimana badan klasifikasi ini dijadikan anggota sementara sebelum dianyatakan sebagai anggota tetap.
    Begitu pula sebaliknya, jika suatu badan klasifikasi anggota IACS ditemukan melakukan hal yang tidak sesuai dengan prosedur IACS maka bisa jadi sebagai sanksi badan klasifikasi tersebut dikeluarkan dari keanggotannya di IACS, tentu saja ada prosedur-prosedur tertentu dan pengukuran tingkat penyimpangan yang spesifik yang telah diatur internal IACS.

    Jumat, 24 Desember 2010

    KMP. TAMPO MAS II, KECELAKAAN PELAYARAN TERBURUK INDONESIA

    “Pergi! Jangan tonton kematian kami!”, teriak seorang penumpang Kapal. Makian-makian itu makin menjadi-jadi manakala kapal-kapal lain yang mencoba membantu malah menjauh dari kapal tersebut. 40 menit kemudian lenyaplah semua suara-suara dan makian-makian memilukan itu. Kapal tersebut akhirnya karam dan menghunjam dasar Laut Jawa pada siang hari naas tersebut, bersama semua skandal-skandal persoalan dan penyebabnya.
    Bagi mereka yang hidup pada paruh pertama dekade 80-an, pastilah mengenal musibah ini, sebuah musibah yang menggemparkan Indonesia, dan tergolong sebagai Musibah Terparah Keempat Dunia. Tragedi Tenggelamnya KMP Tampomas II di Perairan Kepulauan Masalembo (114˚25’60” BT – 53˚0’0” LS), Laut Jawa pada tanggal 27 Januari 1981. Sebuah kapal “bekas” terbesar Indonesia yang dibeli dari Jepang.



    SELAYANG PANDANG

    KMP Tampomas II yang semula bernama MV Great Emerald diproduksi tahun 1956, tergolong jenis Kapal RoRo (Roll On-Roll Off) dengan tipe Screw Steamer berukuran 6139 GRT (Gross Registered Tonnage) dan berbobot mati 2.419.690 DWT (Dead-Weight Tonnage). Dimodifikasi ulang (Retrofit) tahun 1971 di Taiwan. Kapal ini berkapasitas 1250-1500 orang penumpang, dengan kecepatan maksimum 19.5 knot. Memiliki lebar 22 meter dan Panjang 125,6 meter.

    Kapal ini dibeli oleh PT. PANN (Pengembangan Armada Niaga Nasional) dari Pihak Jepang, Comodo Marine Co. SA seharga US$ 8.3 Juta. Kemudian PT. PELNI (Pelayaran Nasional Indonesia) membeli secara mengangsur selama sepuluh tahun kepada PT. PANN. Berbagai pihak telah heran akan mahalnya harga kapal ini, mengingat pernah ditawarkan ke Perushaan Pelayaran Swasta lain hanya seharga US$ 3.6 Juta. Berbagai pihak, termasuk Jepang sendiri telah menyatakan kapal ini Afkir karena telah berumur 25 tahun.





    Begitu dioperasikan, kapal penumpang ini langsung dipacu untuk melayani jalur Jakarta-Padang dan Jakarta-Ujungpandang yang memang padat. Setiap selesai pelayaran, kapal ini hanya diberi waktu istirahat selama 4 jam dan harus siap untuk melayani pelayaran selanjutnya. Perbaikan dan perawatan rutin terhadap mesin dan perlengkapan kapal pun hanya dapat dilaksanakan sekedarnya saja, padahal mengingat usianya yang sudah cukup berumur, seyogyanya kapal ini perlu mendapat perawatan yang jauh lebih cermat.

    Namun dibalik semua kejanggalan itu, kapal ini memulai Pelayaran Perdananya menuju Ujungpandang pada bulan Mei 1980. Pada pelayaran ini pun, yang diikuti oleh beberapa anggota DPR, sempat menyaksikan sendiri dan turut pula mempertanyakan perihal mesin yang sering mengalami kerusakan selama perjalanan. Anggota DPR dari Fraksi PDI-P, Ahmad Soebagyo menyebutkan berbagai kejanggalan selama perjalanan diantaranya kapal yang berputar-putar dalam radius yang sama dikarenakan rusaknya salah satu Knop Otomatis pengatur mesin kapal, dan dibatalkannya Acara Show Kapal karena matinya aliran listrik dalam waktu yang lama.


    LAUT JAWA, 24 – 27 JANUARI 1981


    KMP Tampomas II bertolak dari Dermaga Tanjungpriok hari Sabtu, 24 Januari 1981 Pukul 19.00 WIB dengan tujuan Ujungpandang, perjalanan seyogyanya memakan waktu 2 hari 2 malam di atas laut, sehingga diperkirakan hari Senin, 26 Januari 1981 Pukul 10.00 WIB akan tiba. Seorang pemandu kapal menyebutkan bahwa salah satu mesin kapal telah mengalami kerusakan sebelum bertolak.

    Kapal membawa Puluhan Kendaraan Bermotor termasuk Mesin Giling SAKAI, Skuter Vespa, dll yang diletakkan di Cardeck. Berdasarkan Data Manifest Kapal menyebutkan, terdapat 191 Mobil dan 200 Motor di atas kapal. Dalam Pelayaran tersebut, sebanyak 1055 Penumpang Terdaftar dan 82 Awak Kapal berada di atas kapal. Estimasi Total Penumpang adalah 1442 termasuk penumpang gelap.

    24 Januari Malam, tidak terjadi apa-apa. Yang terlihat hanyalah Awan Senja yang memukau dan Pemandangan Laut Jawa yang datar. Namun diakui Ombak Januari memang sangat besar dibandingkan di bulan-bulan lain, Ombak setinggi 7-10 meter dengan kecepatan angin 15 knot sangat wajar terjadi. Di dalam kapal sendiri direncanakan sebuah Acara Show di Bar Kapal dengan Penyanyi Ida Farida dari Band Kapal. Namun berbagai tanda keanehan terjadi, diantaranya dibawakannya Lagu Salam Perpisahan oleh seorang yang bernama Ferry, yang kemudian tidak diketahui keberadaannya.

    25 Januari Pagi, keadaan berlangsung seperti biasa. Namun, 25 Januari Malam, sekitar Pukul 20.00 WITA, dalam kondisi badai laut yang hebat, beberapa bagian mesin mengalami kebocoran bahan bakar, dan Puntung Rokok yang berasal dari ventilasi menyebabkan Percikan Api. Para kru melihat dan mencoba memadamkannya menggunakan Tabung Pemadam Portabel, namun gagal. Api semakin menjalar ke Kompartemen Mesin karena Pintu Dek terbuka. Akibatnya selama 2 jam tenaga utama mati, dan generator darurat pun gagal (Failure) dan usaha pemadaman pun dihentikan karena sudah tidak memungkinkan. Ditambah dengan Bahan Bakar yang “ternyata” masih terdapat disetiap Kendaraan, menyebabkan Api merambat dan membakar semua dek dengan cepat.




    30 menit setelah Api Muncul, para penumpang diperintahkan menuju dek atas dan langsung menaiki sekoci. Namun hal ini berlangsung lambat, karena hanya ada 1 Pintu menuju Dek Atas. Begitu berada di Dek Atas, para ABK dan Mualim Kapal tidak ada yang memberitahu arah dan lokasi Sekoci. Beberapa ABK malah dengan egois menurunkan sekoci bagi dirinya sendiri. Dari 6 sekoci yang ada, masing-masing hanya berkapasitas 50 orang. Sebagian penumpang nekat terjun bebas ke Laut, dan sebagian lagi menunggu dengan panik pertolongan selanjutnya.

    Tanggal 26 Januari Pagi, Laut Jawa dilanda Hujan yang sangat deras. Api mulai menjalar ke ruang mesin dimana terdapat bahan bakar yang tidak terisolasi. Akibatnya Pagi Hari tanggal 27 Januari, terjadi ledakan di Ruang Mesin dan membuatnya penuh oleh air laut. Ruang Propeller dan Ruang Generator turut pula terisi air laut, yang mengakibatkan Kapal miring 45 derajat.

    Akhirnya pada siang hari tanggal 27 Januari 1981 Pukul 12.45 WIB atau Pukul 13.45 WITA (sekitar 30 jam setelah percikan api pertama), KMP Tampomas II tenggelam ke dasar Laut Jawa untuk selamanya, bersama 288 korban tewas di Dek Bawah.


    EVAKUASI DAN AFTERMATH

    Tanggal 25 Januari Pukul 23.00 WITA Syahbandar Ujungpandang (Pelabuhan Pangkalan Hatta), menerima berita dari KMP Wayabula, bahwa KMP Tampomas II terbakar di sekitar Perairan Kepulauan Masalembo, 220 Mil dari Ujungpandang. KMP Wayabula sendiri mendapat kabar dari KMP Sangihe yang sedang memberikan pertolongan kepada para korban KMP Tampomas II.





    Nakhoda KMP Sangihe, Kapten Agus KS mengaku melihat Kepulan Asap sejak Pukul 06.00 WITA. Dengan spontan mereka mengarahkan kapal ke arah tersebut. 90 menit kemudian, sekitar 100 mil dari sumber asap, barulah dapat dipastikan bahwa KMP Tampomas II terbakar. Berita S.O.S segera dikirimkan ke Surabaya dan mendapat balasan agar mengawasi keadaan kapal dan mengkoordinir Tim SAR dari kapal lainnya. Namun akibat cuaca yang kurang bersahabat, sehari semalam KMP Sangihe hanya dapat menyelamatkan 149 orang.

    Tanggal 26 Januari Pagi, KMP Sangata yang bermuatan Kayu sedang menuju Pagetan, Kalimantan Selatan untuk kemudian menuju Korea. Namun, mereka berhasil menangkap berita S.O.S dari Radio Surabaya atas dasar siaran dari KMP Sangihe, sehingga mereka mengubah haluan kapal berdasarkan koordinat yang diberikan, dengan kecepatan penuh. Pukul 10.30 WIB, kapal tiba di lokasi dan segera menurunkan jala-jala muat di kiri-kanan lambung kapal sepanjang 200 meter dan mencoba menghubungi KMP Tampomas II di bagian haluan.

    Tanggal 26 Januari Malam, Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Sekditjen PERLA) J.E. Habibie mengumumkan dalam Siaran TVRI bahwa KMP Tampomas II mengalami Kebakaran Kecil namun telah berhasil diatasi oleh ABK Kapal. Namun demikian, Kapal tetap harus menurunkan Jangkar untuk memperbaiki Mesin Kapal. Sebuah Pengumuman yang sangat menyesatkan dan merugikan, yang ditebus dengan kehilangan ratusan nyawa. J.E. Habibie beralasan bahwa ia mengumumkan demikian bertujuan untuk menenangkan Keluarga Penumpang Kapal. Namun konsekuensi yang dibayar sangat mahal, karena seluruh tenaga penolong dibatalkan karena “ucapannya”.





    Tanggal 28 Januari, KMP Niaga XXIX merapat di Dermaga Pangkalan Hatta Ujungpandang, membawa 56 Orang Korban, 5 diantaranya berupa Jenazah. Kemudian menyusul KMP Sangata, membawa 169 Orang Korban, 1 diantaranya berupa Jenazah Anak Kecil.

    Tanggal 29 Januari, KMP Ilmamui membawa 34 Orang Korban, semuanya dalam keadaan hidup. Menyusul KMP Adhiguna Kurnia, membawa 21 orang korban yang semuanya dalam keadaan hidup, namun cacat karena KMP Adhiguna Kurnia merapatkan badan kapal dengan KMP Tampomas II yang terbakar, sehingga banyak yang terjepit.

    Sampai tanggal 29 Januari Tim SAR gagal melakukan pencarian karena besarnya badai laut, dan 5 hari kemudian 80 orang yang selamat dalam sekoci ditemukan 150 km dari lokasi kejadian karamnya Tampomas. Estimasi tim menyebutkan 431 tewas (143 ditemukan mayatnya dan 288 karam bersama kapal) dan 743 berhasil diselamatkan.

    Tanggal 30 Januari, KMP Thamrin membawa 30 Jenazah, hanya seorang yang hidup termasuk Gadis Cilik berusia 3 Tahun. Menyusul kemudian KMP Wayabula membawa 36 korban dan 3 Jenazah.

    Hari Terakhir tanggal 31 Januari, KMP Brantas yang datang dari Surabaya dengan Tenaga Pengobatan, menjaring 35 Jenazah, dan 1 Korban Kritis. Yang terakhir, Kapal Ivy berbendera Inggris, menyelamatkan 1 orang korban.

    Tak ada pejabat yang bertanggung jawab, semuanya berujung dengan kesalahan awak kapal. Hasil penyidikan Kejaksaan Agung yang menugaskan Bob Rusli Efendi Nasution sebagai Kepala Tim Perkara pun tidak ada tuntutan kepada pejabat yang saat itu memerintah, salah satunya J.E. Habibie selaku Sekditjen PERLA. Skandal ini kemudian ditutup-tutupi oleh pemerintahan Suharto-Habibie, kendati banyak tuntutan pengusutan dari sebagian anggota parlemen. Dalam suatu acara dengar pendapat yang diadakan oleh DPR-RI tentang kasus ini, Menteri Perhubungan menolak permintaan para wakil rakyat untuk menunjukkan laporan Bank Dunia yang merinci pembelian kapal bekas seharga US$ 8.3 Juta itu. Makelar kapal Tampomas II — Gregorius Hendra yang mengatur kontrak pembelian antara Jepang dan pemerintah Indonesia itu juga lepas dari tuntutan Kejaksaan Agung.